
Pantau - Arab Saudi menegaskan komitmennya menjaga kelancaran pasokan energi ke pasar global meskipun konflik di Timur Tengah terus berlangsung dan menimbulkan gangguan terhadap pasar energi internasional.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan negaranya akan terus memenuhi komitmen pasokan, mempertahankan investasi, dan memperkuat ketahanan infrastruktur energi dalam menghadapi berbagai tantangan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Pertemuan Tingkat Menteri Forum Energi Internasional ke-17 (IEF17) yang diselenggarakan Arab Saudi pada Minggu (11/10/2026).
Ia menggambarkan ketahanan negaranya dengan menyebut Arab Saudi “bagaikan burung phoenix; kami bangkit dari abu setiap saat, berulang kali, dan tidak ada yang dapat mematahkan tekad kami.”
Arab Saudi Tegaskan Komitmen Pasokan Energi di Tengah Konflik
Pertemuan IEF17 berlangsung ketika kawasan Timur Tengah masih menghadapi ketegangan akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026.
Situasi regional semakin rumit setelah kelompok Houthi Yaman, yang bersekutu dengan Teheran, kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada Juli.
Konflik tersebut turut memengaruhi kondisi pasar energi dan meningkatkan perhatian terhadap keamanan jalur distribusi minyak.
Pangeran Abdulaziz mengatakan Arab Saudi telah menunjukkan kemampuannya mempertahankan keandalan pasokan energi meskipun menghadapi berbagai gangguan.
Menurutnya, Kerajaan tetap berupaya menjalankan investasi dan memastikan kesiapan menghadapi perubahan situasi keamanan.
Ia kembali menegaskan bahwa “semua orang kini menyadari bahwa Kerajaan mampu berdiri teguh dan menghadapi tantangan. Tidak ada yang dapat melemahkan tekad kami atau menghalangi kami untuk terus menempuh jalan kemajuan dan memenuhi komitmen kami, apa pun situasinya.”
Jalur Pipa Timur-Barat Salurkan 5,8 Juta Barel Minyak per Hari
Dalam sambutannya, Pangeran Abdulaziz menyoroti peran strategis Jalur Pipa Timur-Barat dalam menjaga keberlanjutan distribusi minyak Arab Saudi.
Infrastruktur tersebut memungkinkan pengangkutan minyak menuju pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah sebagai jalur alternatif untuk menjangkau pasar internasional.
Menurutnya, keberadaan jalur pipa tersebut mencerminkan perencanaan jangka panjang Arab Saudi dalam memperkuat ketahanan sistem energi nasional.
Pada 6 Oktober 2026, Pangeran Abdulaziz mengungkapkan bahwa Arab Saudi memompa sekitar 5,8 juta barel minyak per hari melalui Jalur Pipa Timur-Barat.
Pengumuman tersebut menjadi keterangan resmi pertama mengenai tingkat operasional jalur pipa setelah fasilitas itu sempat ditutup sementara akibat serangan beberapa pekan sebelumnya.
Pemanfaatan jalur distribusi alternatif menjadi bagian dari upaya Arab Saudi mempertahankan pengiriman minyak di tengah gangguan keamanan kawasan.
Arab Saudi Dorong Kerja Sama Internasional untuk Ketahanan Energi
Pangeran Abdulaziz menegaskan bahwa menjaga ketahanan energi bukan hanya tanggung jawab negara produsen, melainkan memerlukan kerja sama internasional.
Ia menilai koordinasi antarpemerintah dan pelaku industri penting untuk menjaga stabilitas pasokan serta mendukung pertumbuhan ekonomi global.
“Ketahanan energi merupakan pilar utama stabilitas ekonomi dan pertumbuhan berkelanjutan. Mengorbankan ketahanan energi berarti menempatkan perekonomian dan daya saingnya dalam risiko,” tambahnya.
Menurutnya, gangguan terhadap pasokan energi dapat memengaruhi kegiatan ekonomi dan daya saing berbagai negara.
Arab Saudi juga menerapkan pendekatan yang mencakup berbagai sumber energi untuk memperkuat ketahanan nasional.
Strategi tersebut meliputi pengembangan minyak, gas alam, energi terbarukan, energi nuklir, dan energi panas bumi.
Melalui diversifikasi sumber energi dan penguatan infrastruktur, Arab Saudi menyatakan akan terus berupaya memenuhi komitmen pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik.
- Penulis :
- Aditya Yohan




