HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Ancam Jadikan Aset Politik AS dan Infrastruktur Negara Sekutu sebagai Target Jika Perang Baru Pecah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Iran Ancam Jadikan Aset Politik AS dan Infrastruktur Negara Sekutu sebagai Target Jika Perang Baru Pecah
Foto: (Sumber :Kerusakan struktural parah pada sebuah bangunan hunian yang hancur di Pulau Qeshm, Provinsi Hormozgan, Iran, pada 11 September 2026. ANTARA/Fatemeh Bahrami - Anadolu Agency /pri.)

Pantau - Iran mengancam akan menjadikan aset politik Amerika Serikat (AS) serta infrastruktur negara-negara yang terlibat dalam perang baru melawan Teheran sebagai sasaran serangan apabila konflik tersebut menyebabkan terbunuhnya pejabat Iran atau jatuhnya korban sipil.

Ancaman itu disampaikan seorang pejabat senior keamanan Iran yang tidak disebutkan namanya, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars.

Pejabat tersebut menyatakan bahwa Iran telah menginstruksikan unit-unit operasionalnya mengenai kemungkinan tindakan balasan jika terjadi konflik militer berskala besar.

Menurutnya, Teheran menganggap AS dan Israel berpotensi kembali melancarkan serangan terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Peringatan tersebut muncul ketika perselisihan mengenai blokade laut dan pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz belum terselesaikan.

Iran Siapkan Respons Jika Pejabat dan Warga Sipil Menjadi Korban

Pejabat keamanan Iran itu menyatakan bahwa Teheran telah menyiapkan langkah menghadapi kemungkinan pecahnya perang baru.

Ia mengatakan unit-unit operasional Iran telah menerima instruksi terkait sasaran yang dapat ditetapkan apabila konflik meluas.

Dalam skenario perang yang menyebabkan terbunuhnya pejabat Iran dan warga sipil, aset politik AS serta infrastruktur negara-negara yang ikut berperang akan dipandang sebagai "sasaran yang sah", menurut pejabat tersebut.

Pernyataan itu merupakan ancaman bersyarat dan bukan pengumuman bahwa serangan baru telah dilaksanakan.

Pejabat tersebut juga menyebut adanya tekanan dari berbagai kelompok masyarakat Iran agar pemerintah mengambil "tindakan tegas" untuk menghadapi blokade.

Menurutnya, tindakan tersebut dipandang Teheran sebagai bagian dari hak membela diri.

Teheran Anggap Blokade AS sebagai Kelanjutan Perang

Pejabat keamanan Iran itu mengatakan negaranya saat ini memandang hubungan dengan AS berada dalam kondisi perang.

Teheran menilai blokade ekonomi dan laut yang diberlakukan Washington merupakan kelanjutan dari operasi militer yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Pembatasan wilayah udara Iran juga disebut sebagai bagian dari tekanan militer yang masih berlangsung.

Menurut pejabat tersebut, pemerintah Iran semakin meragukan isyarat diplomatik yang disampaikan Washington.

Ia mengungkapkan bahwa Teheran memperkirakan AS dan Israel dapat kembali melancarkan serangan meskipun terdapat komunikasi diplomatik.

Pernyataan Menlu AS Marco Rubio Turut Picu Ketegangan

Menurut laporan Fars, pandangan pejabat Iran tersebut menguat setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pernyataan di Athena.

Pernyataan Rubio ditafsirkan oleh Teheran sebagai pembenaran berdasarkan sejarah dan peradaban atas kebijakan perang Washington terhadap Iran.

Pejabat keamanan Iran itu juga mengklaim bahwa kebijakan AS di Timur Tengah semakin dipengaruhi kepentingan Israel.

Ia menilai kondisi tersebut menghambat peluang Washington untuk menempuh penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Selain itu, pejabat tersebut mengklaim Israel menjadi salah satu prioritas utama dalam kebijakan Presiden AS Donald Trump di kawasan Timur Tengah.

Klaim tersebut merupakan pandangan pejabat Iran dan tidak disertai tanggapan langsung dari pemerintah AS dalam laporan yang tersedia.

Manuver Jet Tempur Israel Dekat Iran Jadi Sorotan

Peringatan Iran juga muncul setelah media Israel melaporkan aktivitas puluhan jet tempur Israel yang terbang mendekati perbatasan Iran pada awal pekan ini.

Sejumlah sumber AS menduga manuver penerbangan tersebut kemungkinan dimaksudkan untuk memancing respons dari Teheran.

Namun, dugaan mengenai tujuan penerbangan itu belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.

Ketegangan militer antara Iran, AS, dan Israel meningkat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut memicu konflik regional yang lebih luas dan berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Upaya diplomatik yang dilakukan setelah pecahnya konflik belum berhasil menyelesaikan perselisihan mengenai blokade laut dan pengaturan keamanan di jalur strategis tersebut.

Hingga laporan ini disampaikan, ancaman Iran masih berkaitan dengan kemungkinan terjadinya perang baru dan keterlibatan negara-negara lain dalam konflik tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026