
Pantau - Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Sanaa, ibu kota Yaman, pada Senin (26/10/2026) dini hari waktu setempat dan mengeklaim berhasil menghancurkan dua peluncur rudal balistik milik kelompok Houthi.
Serangan tersebut dilakukan setelah kelompok Houthi dilaporkan melancarkan serangan rudal terhadap Riyadh, ibu kota Arab Saudi, dalam beberapa jam sebelumnya.
Juru bicara koalisi Arab Saudi, Turki al-Maliki, mengatakan salah satu peluncur rudal yang dihancurkan telah digunakan dalam serangan terhadap Riyadh.
Melalui unggahan di platform media sosial X, Al-Maliki menyatakan koalisi terus melaksanakan operasi militer untuk membongkar jaringan rudal balistik Houthi.
Serangan terbaru tersebut berlangsung di tengah meningkatnya pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi di sejumlah wilayah.
Koalisi Saudi Targetkan Peluncur Rudal Balistik di Sanaa
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan dua peluncur rudal balistik Houthi menjadi sasaran serangan di Sanaa pada Senin dini hari.
Menurut juru bicara koalisi, salah satu perangkat tersebut sebelumnya digunakan untuk menyerang ibu kota Arab Saudi.
Al-Maliki menegaskan bahwa operasi militer terhadap jaringan persenjataan rudal Houthi masih berlanjut.
Serangan tersebut menjadi bagian dari upaya koalisi untuk melemahkan kemampuan peluncuran rudal balistik kelompok Houthi.
Sanaa merupakan salah satu wilayah utama yang berada di bawah kendali Houthi sejak kelompok tersebut merebut ibu kota Yaman pada 2014.
Belum ada keterangan mengenai jumlah korban maupun rincian kerusakan akibat serangan udara terbaru yang dilancarkan koalisi.
Pihak Houthi juga belum memberikan tanggapan langsung terkait klaim penghancuran dua peluncur rudal tersebut.
Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 218 Petempur Houthi
Sementara itu, militer Yaman melaporkan telah melaksanakan 753 operasi dalam kurun waktu 24 jam terakhir hingga Minggu (25/10/2026).
Dalam operasi tersebut, militer Yaman mengeklaim telah melumpuhkan sekitar 218 petempur Houthi, termasuk sejumlah komandan lapangan.
Militer juga menyatakan berhasil menghancurkan atau merusak 78 kendaraan militer dan persenjataan milik kelompok tersebut.
Operasi itu merupakan bagian dari kampanye militer yang diberi nama Operasi Fajar Yaman.
Menurut keterangan militer Yaman, sasaran operasi meliputi pusat komando di garis depan, benteng pertahanan, dan posisi penembakan Houthi.
Pasukan pemerintah juga menargetkan konsentrasi pasukan, pergerakan bala bantuan, serta kendaraan logistik yang digunakan kelompok tersebut.
Serangkaian serangan itu dilaporkan menghambat pergerakan bala bantuan Houthi menuju wilayah pertempuran.
Operasi tersebut juga disebut mendukung penyergapan dan serangan darat yang dilaksanakan pasukan pemerintah Yaman.
Namun, militer Yaman belum merinci berapa orang yang tewas maupun terluka dari 218 petempur yang diklaim telah dilumpuhkan.
Pertempuran Kembali Memanas di Wilayah Yaman
Serangan koalisi Arab Saudi dan operasi militer pemerintah Yaman berlangsung ketika pertempuran kembali meningkat di sejumlah garis depan.
Perubahan situasi keamanan dilaporkan terjadi terutama di kawasan pesisir Laut Merah.
Pertempuran yang kembali berkobar menyebabkan perubahan penguasaan wilayah, sementara sejumlah daerah masih diperebutkan oleh pihak-pihak yang bertikai.
Kelompok Houthi saat ini menguasai sebagian besar wilayah utara dan barat Yaman, termasuk ibu kota Sanaa.
Sementara itu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional bersama pasukan sekutunya masih menguasai Aden serta sebagian besar wilayah selatan dan timur negara tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguasaan wilayah Yaman masih terbagi di antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah.
Konflik Yaman Berlangsung Sejak 2014
Konflik bersenjata di Yaman bermula ketika kelompok Houthi merebut Sanaa dan sejumlah provinsi lainnya pada 2014.
Perebutan wilayah tersebut memicu eskalasi konflik antara Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Pada 2015, koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman.
Sejak saat itu, pertempuran berlangsung di berbagai wilayah dengan perubahan garis depan dan penguasaan daerah.
Houthi tetap mempertahankan kendali atas Sanaa serta sebagian besar kawasan utara dan barat negara tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Yaman bersama sekutunya mempertahankan wilayah Aden dan sejumlah kawasan di selatan serta timur.
Hingga Senin (26/10/2026), belum ada tanggapan langsung dari pihak Houthi mengenai klaim terbaru koalisi Arab Saudi maupun laporan operasi militer pemerintah Yaman.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




