HOME  ⁄  Geopolitik

Indonesia Dorong Produksi Minyak Nabati Berkelanjutan di China, CPOPC Perkuat Kerja Sama Teknologi dan Rantai Pasok Sawit

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Indonesia Dorong Produksi Minyak Nabati Berkelanjutan di China, CPOPC Perkuat Kerja Sama Teknologi dan Rantai Pasok Sawit
Foto: (Sumber :Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (memegang mic) dan Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Izzana Salleh (berbaju merah) dalam konferensi pers di Shanghai, Selasa (27/10). ANTARA/HO-KJRI Shanghai..)

Pantau - Indonesia mendukung pengembangan industri minyak nabati berkelanjutan melalui konferensi internasional di Shanghai, China, yang melibatkan sekitar 220 peserta dari 11 negara untuk memperkuat kerja sama perdagangan, teknologi, dan rantai pasok minyak kelapa sawit global.

Dukungan tersebut disampaikan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai dalam penyelenggaraan The 4th Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) pada Selasa (27/10/2026).

Konferensi yang berada dalam kerangka kerja sama Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) itu untuk pertama kalinya diselenggarakan di China.

Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, menyatakan kegiatan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dan China dalam memperkuat hubungan ekonomi serta kerja sama berbagai sektor.

"Penyelenggaraan SVOC di China mencerminkan eratnya hubungan bilateral RI-China dan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor," kata Djauhari dalam pernyataan tertulis yang diterima di Beijing, Kamis (29/10/2026).

Indonesia dan China Perkuat Kerja Sama Minyak Nabati Berkelanjutan

Penyelenggaraan SVOC di Shanghai menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama strategis antara negara produsen dan konsumen minyak nabati.

Konferensi tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, pelaku industri, akademisi, peneliti, serta pemangku kepentingan sektor minyak nabati dari berbagai negara.

Djauhari menjelaskan bahwa kemitraan strategis Indonesia dan China memiliki peran dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong investasi berkelanjutan.

Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global yang inklusif dan tangguh.

China merupakan salah satu pasar utama minyak kelapa sawit yang diproduksi negara-negara anggota CPOPC.

Minyak kelapa sawit tercatat sebagai jenis minyak nabati impor terbesar bagi China, dengan sebagian besar pasokannya berasal dari negara anggota organisasi tersebut.

CPOPC Sebut 89 Persen Pasokan Sawit Berasal dari Negara Anggota

Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, menekankan pentingnya peningkatan produktivitas untuk menghadapi pertumbuhan permintaan minyak nabati.

Menurutnya, peningkatan produksi perlu dilakukan melalui pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab dan penguatan rantai pasok berkelanjutan.

"Sebanyak 89 persen pasokan minyak kelapa sawit berasal dari negara anggota CPOPC. Sektor kelapa sawit juga menjadi sumber mata pencaharian bagi jutaan pengusaha dan petani kecil di negara produsen," kata Izzana.

Ia menjelaskan bahwa industri kelapa sawit memiliki peran ekonomi penting bagi masyarakat di negara-negara produsen.

Karena itu, peningkatan produktivitas perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan petani kecil.

CPOPC juga menyoroti perlunya menjaga ketersediaan pasokan minyak kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pasar China.

Teknologi Digital dan Kecerdasan Buatan Didorong Tingkatkan Produksi Sawit

Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan menjadi salah satu pembahasan utama dalam konferensi tersebut.

Integrasi teknologi dinilai dapat mendukung peningkatan efektivitas produksi minyak nabati.

Para peserta juga membahas penguatan kapasitas petani kecil agar mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Selain itu, diskusi panel menyoroti perubahan kebijakan hijau yang memengaruhi perkembangan industri kelapa sawit global.

Pembahasan mencakup penerapan teknologi dalam proses produksi, pengelolaan sumber daya, serta peningkatan daya saing industri.

Pengembangan bahan bakar nabati turut menjadi perhatian sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan ekonomi rendah karbon.

Konferensi di Shanghai Libatkan Pemerintah dan Pelaku Usaha dari 11 Negara

Konferensi SVOC di Shanghai dihadiri sekitar 220 peserta yang berasal dari 11 negara.

Peserta mencakup perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia serta pemerintah Malaysia, Papua Nugini, dan Kongo.

Pelaku usaha sektor minyak nabati, akademisi, peneliti, dan sejumlah pihak terkait lainnya juga mengikuti kegiatan tersebut.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan dimaksudkan untuk memperkuat koordinasi dalam pengembangan industri minyak nabati berkelanjutan.

Forum tersebut membahas berbagai tantangan yang dihadapi negara produsen, termasuk kebutuhan peningkatan produktivitas dan perubahan kebijakan lingkungan.

KJRI Shanghai Nilai Kerja Sama Sawit Penting bagi Perdagangan Global

Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, menyatakan penyelenggaraan konferensi di China memiliki arti strategis bagi negara anggota CPOPC.

Menurutnya, China merupakan mitra dagang terbesar bagi negara-negara anggota organisasi tersebut.

Shanghai juga memiliki posisi penting sebagai pusat ekonomi China dengan keunggulan di bidang keuangan, inovasi teknologi, manufaktur, perdagangan, dan konektivitas global.

Berlianto menilai keterhubungan berbagai sektor tersebut dapat mendukung penguatan industri minyak nabati.

"Sinergi dari seluruh elemen tersebut akan meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, dan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga menjadi kunci untuk membangun ekonomi yang kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok global," kata Berlianto.

Melalui konferensi tersebut, Indonesia bersama negara anggota CPOPC mendorong penguatan kerja sama untuk menjaga pasokan minyak nabati sekaligus meningkatkan keberlanjutan industri kelapa sawit.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026