HOME  ⁄  Geopolitik

Sekjen PBB Antonio Guterres Kecam Kematian Staf PBB dalam Tahanan Houthi di Yaman

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Sekjen PBB Antonio Guterres Kecam Kematian Staf PBB dalam Tahanan Houthi di Yaman
Foto: (Sumber :Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (ANTARA/Anadolu).)

Pantau - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam kematian Mohammed Ibrahim al-Shami, staf Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), yang meninggal dunia saat berada dalam tahanan kelompok Houthi di Yaman.

Guterres menyatakan sangat terkejut atas kematian tersebut dan menyampaikan kekhawatiran terhadap keselamatan personel PBB serta pekerja kemanusiaan lainnya yang masih ditahan.

Al-Shami diketahui telah ditahan oleh kelompok Houthi sejak 6 Juni 2024.

Kematian tersebut menjadi kasus kedua staf PBB yang meninggal dunia ketika berada dalam tahanan kelompok Houthi di Yaman.

Guterres Khawatir terhadap Keselamatan Staf PBB yang Masih Ditahan

Antonio Guterres menyampaikan keprihatinannya melalui pernyataan di platform X pada Sabtu (31/10/2026).

Ia menyoroti kondisi personel PBB, mantan pegawai PBB, serta anggota organisasi kemanusiaan dan masyarakat sipil yang masih berada dalam tahanan.

"Saya tetap sangat prihatin terhadap keselamatan dan kondisi personel PBB, mantan staf PBB, serta anggota organisasi kemanusiaan dan masyarakat sipil yang masih ditahan," kata Guterres.

Guterres juga mengungkapkan bahwa Mohammed Ibrahim al-Shami merupakan pegawai kedua PBB yang meninggal dunia dalam tahanan kelompok Houthi.

Al-Shami sebelumnya bekerja di OHCHR, lembaga PBB yang menangani persoalan hak asasi manusia.

Ia telah ditahan sejak Juni 2024 dalam penahanan yang disebut PBB sebagai tindakan sewenang-wenang.

Dua Staf PBB Meninggal dalam Tahanan Houthi

Sebelum kematian Mohammed Ibrahim al-Shami, seorang staf Program Pangan Dunia (WFP) bernama Ahmed Ba'alawi juga dilaporkan meninggal dunia dalam tahanan Houthi.

Ba'alawi merupakan staf nasional WFP yang ditahan oleh otoritas setempat di wilayah utara Yaman sejak 23 Januari 2025.

Ia kemudian meninggal dunia pada 11 Februari 2025 ketika masih berada dalam tahanan.

Dengan meninggalnya al-Shami, jumlah staf PBB yang dilaporkan meninggal selama ditahan kelompok Houthi menjadi dua orang.

Kasus tersebut kembali menimbulkan perhatian terhadap keselamatan pekerja organisasi internasional dan kemanusiaan yang menjalankan tugas di wilayah konflik Yaman.

Konflik Yaman Berlangsung Sejak 2014

Yaman mengalami konflik berkepanjangan sejak 2014 ketika kelompok Houthi mengambil alih ibu kota negara, Sanaa.

Penguasaan ibu kota tersebut memicu eskalasi konflik yang kemudian melibatkan berbagai pihak.

Pada Maret 2015, koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Pertempuran yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menyebabkan kerusakan luas dan memperburuk kondisi kemanusiaan masyarakat.

Konflik tersebut juga menimbulkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Jutaan warga Yaman masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Kondisi keamanan yang tidak stabil turut menjadi tantangan bagi organisasi internasional dalam menjalankan kegiatan kemanusiaan di negara tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026