
Pantau - Harga minyak dunia turun tajam hingga 7,6 persen pada perdagangan Senin (2/11/2026) setelah muncul laporan kemajuan perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang membuka peluang berakhirnya konflik bersenjata selama delapan bulan.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, turun menjadi 104,77 dolar AS per barel atau sekitar Rp11.605 per liter.
Penurunan tersebut membawa harga minyak ke level terendah dalam tiga bulan terakhir sekaligus mencatat pelemahan harian terbesar sejak 27 Juli 2026.
Pergerakan harga energi itu terjadi menjelang pemilihan umum sela Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 4 November 2026.
Iran Beri Sinyal Penyelesaian Perang melalui Dialog
Kantor berita Iran, IRNA, pada Senin (2/11/2026) melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan perkembangan mengenai sikap pemerintah terhadap perundingan damai dengan Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan persetujuan kepada pemerintah untuk mengupayakan penyelesaian perang melalui dialog.
Perkembangan itu dipandang sebagai perubahan penting dalam pendekatan Iran terhadap tawaran perundingan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Sebelumnya, kelompok garis keras Iran dilaporkan menentang upaya perundingan damai dengan Washington.
Persetujuan dari pemimpin tertinggi Iran kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong optimisme pelaku pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.
Meski demikian, belum ada pengumuman mengenai penandatanganan perjanjian damai antara kedua negara.
Harga Minyak Brent Turun ke Level Terendah Tiga Bulan
Konflik Iran dan Amerika Serikat yang telah berlangsung sekitar delapan bulan sebelumnya mengganggu pasokan minyak dunia.
Gangguan tersebut turut meningkatkan harga energi global dan menambah tekanan terhadap perekonomian sejumlah negara.
Munculnya kabar kemajuan perundingan damai kemudian mendorong penurunan harga minyak karena pasar memperhitungkan kemungkinan meredanya gangguan pasokan.
Pada penutupan perdagangan Senin, harga minyak Brent tercatat turun 7,6 persen menjadi 104,77 dolar AS per barel.
Penurunan itu merupakan yang terbesar dalam satu hari sejak 27 Juli 2026.
Pergerakan harga minyak tersebut juga berlangsung ketika pelaku pasar mencermati perkembangan politik Amerika Serikat menjelang pemilu sela.
Bursa Saham AS dan Eropa Menguat, Dow Jones Naik 213 Poin
Penurunan harga minyak dan kabar kemajuan perundingan damai turut memberikan sentimen positif terhadap pasar saham global.
Sejumlah bursa saham Amerika Serikat dan Eropa mencatat penguatan pada perdagangan Senin.
Indeks Dow Jones naik 213 poin hingga mencapai 51.983 poin.
Analis perusahaan pasar modal IG, Chris Beauchamp, menilai kabar kemungkinan berakhirnya konflik Iran-AS memberikan dorongan bagi pasar saham yang sebelumnya tertekan oleh kenaikan harga energi.
"Kabar itu bagaikan anugerah dari langit bagi pasar saham, yang belakangan semakin tertekan oleh naiknya harga minyak," kata Beauchamp, seperti dikutip The Guardian pada Senin (2/11/2026).
Penguatan pasar saham tersebut mencerminkan respons investor terhadap perkembangan diplomatik yang dinilai dapat mengurangi tekanan biaya energi.
Analis Ingatkan Harga Minyak Bisa Kembali Melonjak
Meskipun pasar merespons positif perkembangan perundingan, Beauchamp mengingatkan bahwa risiko kenaikan harga minyak belum sepenuhnya hilang.
Menurutnya, harga minyak berpotensi kembali melonjak apabila Presiden Donald Trump melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela Amerika Serikat.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga energi masih bergantung pada perkembangan hubungan Washington dan Teheran.
Kabar kemajuan perundingan memang meningkatkan harapan terhadap penyelesaian konflik, tetapi belum memastikan bahwa perang akan segera berakhir.
Menjelang pemilu sela pada 4 November 2026, pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati perkembangan diplomasi Iran-AS serta kemungkinan perubahan kebijakan militer Washington.
- Penulis :
- Aditya Yohan




