
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa penutupan akses menuju Kota Taiz, Yaman, akibat meningkatnya konflik bersenjata telah memperburuk krisis kemanusiaan, menyebabkan rumah sakit kekurangan pasokan medis, serta menghambat distribusi bantuan kepada masyarakat yang terdampak pertempuran.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan kekurangan bahan bakar, oksigen, air bersih, obat-obatan, produk darah, dan perlengkapan bedah semakin parah di seluruh wilayah Kegubernuran Taiz.
Kondisi tersebut diperburuk oleh meningkatnya jumlah pasien akibat konflik yang membebani fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.
Menurut OCHA, rumah sakit di Kota Taiz yang merupakan pusat perkotaan terbesar ketiga di Yaman kini bergantung pada persediaan darurat karena stok kebutuhan medis terus menipis.
Sementara itu, hampir 300.000 orang dilaporkan mengungsi sejak pertempuran terbaru pecah pada awal Agustus 2026.
Sebanyak 27 Fasilitas Kesehatan Rusak akibat Konflik Yaman
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Yaman terus terdampak serangan sejak eskalasi konflik dimulai pada Agustus 2026.
Sedikitnya 27 fasilitas kesehatan dan tujuh ambulans dilaporkan mengalami kerusakan atau hancur akibat konflik bersenjata.
Selain kerusakan fasilitas medis, sebanyak enam tenaga kesehatan dilaporkan meninggal dunia selama periode tersebut.
Situasi tersebut semakin memperberat pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Di Kota Taiz, rumah sakit menghadapi keterbatasan pasokan bahan bakar, oksigen, darah, dan perlengkapan bedah yang diperlukan untuk menangani pasien.
Meningkatnya jumlah korban luka akibat pertempuran juga membuat fasilitas kesehatan harus menghadapi tekanan tambahan di tengah keterbatasan sumber daya.
Dana Kependudukan PBB (UNFPA) melaporkan bahwa pelayanan kesehatan ibu dan bayi turut mengalami penurunan akibat krisis pasokan bahan bakar.
Jumlah persalinan di rumah sakit bersalin utama Kota Taiz turun hingga 50 persen, dari sekitar 10 persalinan menjadi lima persalinan per hari.
Selain itu, jumlah inkubator yang tersedia untuk bayi prematur menurun drastis dari sebelumnya 40 unit menjadi hanya 10 unit akibat kekurangan bahan bakar.
PBB Catat 22.500 Dugaan Kasus Campak dan Hampir 130 Kematian
Selain menghadapi dampak langsung konflik bersenjata, masyarakat Yaman juga dihadapkan pada ancaman penyebaran penyakit menular.
OCHA melaporkan bahwa jumlah kasus kolera menunjukkan penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Namun, ancaman penyakit campak masih menjadi perhatian karena tercatat lebih dari 22.500 kasus dugaan infeksi di berbagai wilayah Yaman.
Dari jumlah tersebut, hampir 130 kematian dilaporkan berkaitan dengan dugaan kasus campak.
Anak-anak berusia di bawah lima tahun menjadi kelompok paling rentan dengan kontribusi sekitar empat dari setiap lima kematian yang tercatat.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap sistem kesehatan Yaman yang telah mengalami keterbatasan fasilitas, tenaga medis, dan pasokan obat-obatan akibat konflik berkepanjangan.
Hampir 300 Ribu Warga Yaman Mengungsi, Bantuan Terhambat Penutupan Jalan
Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher menyatakan bahwa masyarakat sipil menanggung dampak paling berat dari meningkatnya konflik di Yaman.
Dalam pernyataan pada Senin (2/11/2026), Fletcher mengungkapkan hampir 300.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka sejak pertempuran kembali meningkat pada awal Agustus.
OCHA mencatat organisasi kemanusiaan yang bekerja sama dengan PBB telah berhasil menjangkau hampir 260.000 orang yang membutuhkan bantuan.
Meski demikian, jumlah masyarakat yang membutuhkan pertolongan masih jauh melampaui kemampuan respons kemanusiaan yang tersedia.
PBB menyatakan pasokan makanan, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan penting lainnya sebenarnya telah disiapkan untuk dikirim ke wilayah terdampak.
Namun, penutupan akses jalan akibat konflik menghambat pengiriman bantuan tersebut kepada masyarakat yang semakin terisolasi.
Karena itu, PBB mendesak agar akses jalan menuju wilayah terdampak segera dibuka kembali sehingga distribusi bantuan kemanusiaan dapat dilaksanakan.
PBB Desak Pembebasan 70 Staf yang Masih Ditahan Houthi
Di tengah memburuknya situasi kemanusiaan, Fletcher juga mengecam kematian Mohammad el-Shami, seorang rekan kerja di bidang hak asasi manusia PBB, ketika berada dalam tahanan kelompok Houthi.
PBB melaporkan bahwa sedikitnya 70 staf organisasi tersebut dan puluhan pekerja kemanusiaan lainnya masih berada dalam penahanan.
Fletcher mendesak agar seluruh pekerja kemanusiaan yang ditahan segera dibebaskan tanpa syarat.
Ia menegaskan bahwa pekerja kemanusiaan merupakan warga sipil yang harus mendapatkan perlindungan dan tidak boleh dijadikan alat tawar-menawar dalam konflik.
PBB kembali menyerukan perlindungan terhadap masyarakat sipil serta jaminan akses bantuan kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan.
Seruan tersebut terutama ditujukan untuk memastikan masyarakat di Kota Taiz dan wilayah lain yang semakin terisolasi akibat pertempuran tetap dapat memperoleh makanan, obat-obatan, serta pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




