
Pantau - Anggota parlemen Iran Manouchehr Mottaki menyatakan negaranya berpotensi menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Eropa apabila serangan terhadap Iran kembali terjadi, menyusul meningkatnya kekhawatiran atas kemungkinan pecahnya kembali konflik antara Iran dengan AS dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Mottaki pada Senin (2/11/2026), setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menginstruksikan militer negaranya untuk merespons ancaman tanpa membatasi wilayah geografis asal ancaman tersebut.
Mottaki menegaskan bahwa fasilitas yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran dapat menjadi sasaran balasan, termasuk fasilitas militer yang berada di luar kawasan Timur Tengah.
"Di luar kawasan berarti 'di tempat-tempat yang digunakan untuk menyerang kami'. Saat ini, wilayah geografis yang masuk dalam definisi tersebut, dan terdapat bukti mengenai hal ini, adalah Eropa," kata Mottaki sebagaimana dikutip kantor berita ISNA.
Ia juga menyatakan bahwa kemampuan rudal Iran memungkinkan negara tersebut menjangkau wilayah Eropa apabila situasi konflik kembali meningkat.
"Dengan demikian, dalam konteks tidak adanya batasan geografis, ya, ini berarti rudal kami dapat menjangkau Eropa," imbuh Mottaki.
Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Militer Respons Ancaman dari Mana Pun
Pernyataan Mottaki berkaitan dengan instruksi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kepada jajaran militer pada 31 Oktober 2026.
Dalam pertemuan bersama sejumlah perwira tinggi militer, Khamenei memerintahkan angkatan bersenjata Iran untuk secara aktif merespons ancaman yang datang dari wilayah mana pun.
Instruksi tersebut menjadi dasar pernyataan Mottaki mengenai kemungkinan perluasan jangkauan respons militer Iran ke luar kawasan Timur Tengah.
Menurut Mottaki, wilayah yang digunakan sebagai tempat melancarkan serangan terhadap Iran dapat masuk dalam cakupan sasaran balasan.
Ia secara khusus menyebut Eropa sebagai wilayah yang berpotensi masuk dalam perhitungan tersebut.
Meski demikian, pernyataan Mottaki bersifat kondisional karena kemungkinan serangan dikaitkan dengan terjadinya kembali agresi terhadap Iran.
Belum ada keterangan mengenai pangkalan militer AS tertentu di Eropa yang akan menjadi sasaran.
Konflik Iran dengan AS dan Israel Belum Sepenuhnya Berakhir
Ketegangan tersebut merupakan kelanjutan dari konflik yang pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Teheran sehingga memicu eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Meskipun intensitas pertempuran sempat menurun, konflik antara pihak-pihak yang terlibat belum sepenuhnya terselesaikan.
Situasi tersebut masih menyisakan risiko terjadinya kembali serangan dan aksi balasan.
Pernyataan terbaru dari pejabat Iran menunjukkan bahwa Teheran tetap mempertimbangkan respons militer apabila serangan terhadap wilayahnya kembali dilakukan.
Kemungkinan meluasnya sasaran balasan hingga Eropa menjadi salah satu perkembangan yang muncul dalam pernyataan anggota parlemen Iran tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz Berdampak pada Pasokan Energi Dunia
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel sebelumnya juga berdampak terhadap aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Eskalasi militer sempat menyebabkan aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut nyaris terhenti.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke pasar internasional.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut memengaruhi kelancaran distribusi energi global.
Kondisi itu turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Dengan konflik yang belum sepenuhnya terselesaikan, perkembangan hubungan Iran dengan AS dan Israel masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan serta pasokan energi dunia.
- Penulis :
- Aditya Yohan




