
Pantau - Princeton Digital Group (PDG) berencana memperluas penggunaan bahan bakar nabati Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) pada operasional pusat datanya di Indonesia sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon tanpa mengganggu keandalan sistem kelistrikan.
Perluasan penggunaan HVO dilakukan secara bertahap melalui kerja sama strategis dengan PT Pertamina Patra Niaga yang telah berlangsung sejak September 2025.
Group Head of Energy and Environment Princeton Digital Group Michael Martin mengatakan perusahaan mempertimbangkan ketersediaan bahan bakar, kesiapan operasional, dan keberlanjutan kinerja sebelum memperluas penerapan HVO.
“Sejak menandatangani kemitraan strategis pada September 2025, kami secara bertahap memperluas penggunaan HVO di seluruh operasional kami di Indonesia, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan bakar, kesiapan operasional, serta kinerja yang berkelanjutan,” ujar Michael dalam wawancara tertulis dengan ANTARA di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Indonesia menjadi pasar pertama dalam portofolio global PDG yang menerapkan penggunaan HVO untuk mendukung operasional pusat data melalui kemitraan dengan Pertamina Patra Niaga.
HVO Bisa Menggantikan Solar pada Generator Tanpa Modifikasi Mesin
Michael menjelaskan bahwa hasil pengujian menunjukkan HVO dapat digunakan sebagai pengganti langsung bahan bakar diesel berbasis fosil pada generator cadangan pusat data.
Penggunaan bahan bakar nabati tersebut tidak memerlukan perubahan konfigurasi mesin maupun pembangunan infrastruktur tambahan.
Kondisi ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan HVO pada fasilitas generator yang sudah tersedia.
“Kinerja generator tetap stabil tanpa perubahan pada konfigurasi mesin maupun infrastruktur tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa kami dapat mengurangi emisi dari pembangkit listrik cadangan tanpa mengorbankan keandalannya,” ujar Michael.
Menurutnya, hasil pengujian tersebut memberikan keyakinan kepada PDG untuk meningkatkan pemanfaatan HVO dalam operasional pusat data.
Generator cadangan memiliki peran penting dalam menjaga pasokan listrik ketika terjadi gangguan jaringan listrik utama.
Karena itu, PDG menempatkan keandalan operasional sebagai salah satu pertimbangan utama dalam penerapan bahan bakar alternatif.
Harga HVO Lebih Mahal 10–15 Persen Dibandingkan Solar Fosil
Michael mengakui bahwa harga HVO saat ini masih lebih tinggi dibandingkan bahan bakar diesel berbasis fosil.
Selisih harga tersebut diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 15 persen.
Meski demikian, PDG menilai tambahan biaya penggunaan HVO masih dapat dikelola dalam operasional pusat data.
Hal itu disebabkan generator cadangan umumnya tidak beroperasi secara terus-menerus.
Generator tersebut biasanya digunakan untuk pengujian rutin serta ketika terjadi gangguan pasokan listrik dari jaringan utama.
Dengan pola penggunaan tersebut, pengeluaran bahan bakar generator hanya mencakup bagian yang relatif kecil dari keseluruhan biaya operasional pusat data.
PDG menjadikan kondisi tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam memperluas penggunaan HVO secara bertahap.
PDG Jajaki Energi Panas Bumi dan Tenaga Surya
Selain menggunakan HVO, Princeton Digital Group juga menjajaki pemanfaatan sumber energi terbarukan lainnya untuk mendukung kebutuhan listrik pusat data di Indonesia.
Beberapa sumber energi yang menjadi perhatian perusahaan adalah panas bumi dan tenaga surya.
Michael menyampaikan bahwa operasional PDG di Indonesia telah didukung sertifikat atribut energi atau Energy Attribute Certificate (EAC).
Sertifikat tersebut merepresentasikan listrik yang berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi Kamojang.
Pemanfaatan EAC menjadi bagian dari pendekatan perusahaan dalam mendukung penggunaan energi bersih.
PDG juga memanfaatkan energi biomassa melalui kemitraan dengan PT Cikarang Listrindo untuk mendukung operasional kampus pusat data di Cibitung.
Kerja sama tersebut melengkapi langkah perusahaan dalam mengembangkan penggunaan sumber energi alternatif di Indonesia.
PDG Jadikan Indonesia Pasar Awal Pengembangan Energi Bersih
Pemanfaatan HVO melalui kemitraan dengan Pertamina Patra Niaga menempatkan Indonesia sebagai pasar pertama PDG dalam penerapan bahan bakar nabati tersebut.
Kerja sama yang dimulai pada September 2025 menjadi dasar bagi perusahaan untuk menguji penggunaan bahan bakar alternatif pada sistem pembangkit listrik cadangan.
Hasil pengujian yang menunjukkan kestabilan kinerja generator menjadi pertimbangan dalam rencana perluasan penggunaan HVO.
Namun, perusahaan tetap akan menyesuaikan penerapannya dengan ketersediaan pasokan bahan bakar dan kesiapan masing-masing fasilitas.
PDG juga berencana melanjutkan penjajakan kerja sama dengan penyedia energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan operasional pusat data.
“Meningkatkan penggunaan energi bersih di Indonesia tetap menjadi prioritas kami, dan kami terus menjajaki kemitraan energi terbarukan lainnya,” ujar Michael.
- Penulis :
- Aditya Yohan




