
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kekhawatiran atas kemungkinan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan potensi serangan baru terhadap fasilitas Pickaxe Mountain.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan pernyataan Trump mengenai fasilitas nuklir Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
"Kami sangat khawatir dengan sejumlah pernyataan yang belakangan ini kami dengar terkait isu nuklir di kawasan tersebut, khususnya di Iran," kata Dujarric dalam konferensi pers, Selasa (3/11/2026).
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah laporan mengenai kemungkinan Washington kembali menjadikan fasilitas nuklir Pickaxe Mountain sebagai sasaran serangan.
PBB juga mengingatkan Iran agar tetap menjalankan kewajiban internasional terkait pengembangan dan pengawasan program nuklirnya.
Donald Trump Isyaratkan Serangan Baru terhadap Fasilitas Nuklir Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyampaikan kemungkinan fasilitas nuklir Pickaxe Mountain kembali menjadi sasaran serangan militer.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (3/11/2026), ketika Trump membahas perkembangan program nuklir Iran.
Trump mengeklaim Amerika Serikat sebelumnya telah menghancurkan apa yang disebutnya sebagai ambisi nuklir Teheran.
Meski demikian, Trump mengisyaratkan bahwa fasilitas Pickaxe Mountain masih berpotensi menjadi target serangan berikutnya.
Presiden Amerika Serikat tersebut sebelumnya juga mengeklaim adanya aktivitas di lokasi fasilitas nuklir tersebut.
Pernyataan itu menjadi perhatian PBB karena muncul setelah serangkaian serangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepanjang 2026.
Hingga pernyataan tersebut disampaikan, informasi yang tersedia belum memastikan adanya keputusan resmi Amerika Serikat untuk melancarkan serangan baru terhadap Pickaxe Mountain.
PBB Ingatkan Iran Patuhi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir
Di tengah kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan militer, PBB turut menekankan pentingnya kepatuhan Iran terhadap ketentuan internasional mengenai pengembangan teknologi nuklir.
Dujarric mengingatkan bahwa Iran memiliki kewajiban berdasarkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Selain itu, Iran juga memiliki kewajiban terhadap Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebagai lembaga internasional yang menjalankan fungsi pengawasan terkait penggunaan energi nuklir.
PBB meminta pemerintah Iran mematuhi kewajiban tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Pernyataan Dujarric menunjukkan bahwa PBB menaruh perhatian terhadap dua persoalan, yakni potensi serangan militer baru dan kepatuhan terhadap aturan internasional mengenai program nuklir.
Konflik Amerika Serikat dan Iran Kembali Memanas setelah Kesepahaman Juni
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya meningkat setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan melancarkan serangan terhadap pihak lawan.
Rangkaian serangan itu memperburuk hubungan antara kedua negara dan meningkatkan ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Pada pertengahan Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan.
Namun, upaya tersebut tidak sepenuhnya menghentikan konflik karena kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelah penandatanganan kesepahaman.
Pernyataan terbaru Trump mengenai kemungkinan serangan terhadap Pickaxe Mountain kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan konflik.
PBB kini menyoroti risiko eskalasi tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya pemenuhan kewajiban internasional Iran terkait program nuklirnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




