HOME  ⁄  Hiburan

Joko Anwar Ungkap Fobia Trypophobia di Balik Poster Film “Ghost in the Cell” yang Sarat Kritik Sosial

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Joko Anwar Ungkap Fobia Trypophobia di Balik Poster Film “Ghost in the Cell” yang Sarat Kritik Sosial
Foto: (Sumber : Sutradara Joko Anwar saat konferensi pers seusai pemutaran pratayang film "Ghost in the Cell" di kawasan Setiabudi, Jakarta, Kamis (9/4/2026). ANTARA/Abdu Faisal.)

Pantau - Sutradara Joko Anwar mengungkapkan dirinya mengalami trypophobia atau fobia terhadap lubang saat menggarap poster film “Ghost in the Cell” yang dijadwalkan tayang di Indonesia pada 16 April 2026.

Fobia Jadi Tantangan Kreatif

Joko menyebut dirinya bersama produser Tia Hasibuan sama-sama mengidap trypophobia akut saat mengerjakan konsep visual poster film tersebut.

"Aku sama Tia adalah penderita trypophobia akut," ungkapnya.

Meski demikian, ia justru menjadikan ketakutan tersebut sebagai tantangan kreatif dengan menghadirkan visual lubang yang memiliki makna filosofis mendalam.

Ia menjelaskan bahwa rasa jijik yang muncul dari tampilan lubang dalam poster mencerminkan kejenuhan terhadap sistem sosial yang dianggap bermasalah.

Lubang pada tubuh karakter hantu dalam poster juga dimaknai sebagai simbol individu yang terjebak dalam sistem tanpa menyadari ancaman di dalamnya.

"Hantu ini sebenarnya mewakili sesuatu yang tidak kita pahami. Kita sering melabeli sesuatu sebagai hantu atau ancaman kalau kita tidak paham. Kalau merasa jijik dengan itu, kita jijik sama keadaan di dalamnya. Itu poinnya," jelasnya.

Simbol Harapan di Tengah Kengerian

Dalam konsep visualnya, Joko menghadirkan elemen tumbuhan di dalam setiap lubang untuk memberikan makna harapan di tengah kondisi yang mengerikan.

Ia menyebut bahwa setiap lubang tidak dibiarkan kosong, melainkan diisi bunga seroja atau tanaman lain sebagai simbol kehidupan.

"Itu setiap bolong-bolong itu mengeluarkan tumbuhan. Jadi itu adalah (hope). Jadi kita mau semuanya menunjukkan ada arti," ujarnya.

Poster tersebut juga menggambarkan hantu sebagai representasi sisi terburuk manusia yang muncul ketika kehilangan harapan atau terjerumus dalam tindakan korupsi.

Menurut Joko, sosok hantu dalam film ini bukan sekadar unsur mistik, melainkan gambaran kondisi psikologis negatif yang terjadi dalam kehidupan sosial.

Melalui film “Ghost in the Cell”, ia ingin menyuarakan keresahan sosial sekaligus mengajak penonton melihat realitas melalui karya seni yang reflektif.

Penulis :
Aditya Yohan