HOME  ⁄  Hiburan

Balinale Tegaskan Dukungan untuk Kemenbud dalam Promosikan Perfilman dan Kearifan Lokal Indonesia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Balinale Tegaskan Dukungan untuk Kemenbud dalam Promosikan Perfilman dan Kearifan Lokal Indonesia
Foto: (Sumber: Festival film internasional Balinale akhiri edisi ke-19 pastikan lanjut dukung program Kemenbud, Denpasar, Bali, Sabtu (6/6/2026). (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari).)

Pantau - Festival film internasional Balinale menutup penyelenggaraan edisi ke-19 dengan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dalam mempromosikan perfilman Indonesia serta melestarikan kearifan lokal melalui karya sinema.

Pendiri sekaligus Direktur Festival Balinale Deborah Gabinetti menyatakan pemerintah telah mengakui potensi Balinale melalui dukungan yang terus diberikan oleh Kemenbud.

Deborah mengatakan, "Pemerintah telah mengakui potensi Balinale terbukti dengan Kemenbud yang terus hadir mendukung, maka itu festival ini juga akan terus mendukung program-program Kemenbud."

Balinale ke-19 berlangsung selama satu pekan dan menerima lebih dari 1.300 film dari berbagai negara.

Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 94 film dari 38 negara terpilih untuk ditayangkan dalam festival tersebut.

Dari jumlah itu, 26 film merupakan karya sineas Indonesia.

Sineas Indonesia Raih Penghargaan Khusus

Deborah menilai reputasi internasional dan jaringan global Balinale dapat membantu mempromosikan industri perfilman Indonesia ke tingkat dunia.

Ia mengatakan, "Balinale memiliki reputasi internasional dan afiliasi global, sehingga yang kami lakukan pasti bermanfaat dalam mempromosikan industri perfilman Indonesia. Jadi program pemerintah dalam mempromosikan perfilman bisa lewat jaringan kami."

Pada Balinale 2026, penghargaan Film Dokumenter Pendek diraih "The Tuners" karya Pawel Chorzepa dari Polandia.

Film "Ali" karya Adnan Rajeev dari Bangladesh dan Filipina memenangkan kategori Narasi Pendek.

Kategori Animasi Pendek dimenangkan "Lifetime Warranty" karya Daniel Lobos dari Chili.

"The Tuners" juga meraih penghargaan Film Pendek Terbaik.

Penghargaan Film Dokumenter Panjang diberikan kepada "The Designer is Dead" karya Gonzalo Hergueta dari Spanyol.

Sementara penghargaan Film Naratif diraih "Aisha Can’t Fly Away" karya Morad Mostafa dari Mesir.

Sejumlah sineas Indonesia turut meraih penghargaan khusus dalam festival berkualifikasi Oscar tersebut.

Penghargaan Gary L Hayes diberikan kepada "Sound of Silence" karya Gavrila Angelina dari Indonesia.

Kategori Tapestry of Indonesia atau Film Pendek Indonesia Terbaik dimenangkan "Amazing Fantastic Extraordinary People" karya Nadine Habsjah dan Yusgunawan Marto.

Dua penghargaan pilihan komite diberikan kepada sineas dari Korea Selatan dan Inggris Raya.

Balinale Dorong Penguatan Identitas Budaya Lewat Film

Deborah menilai semakin banyak sineas Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional.

Menurutnya, kondisi tersebut akan meningkatkan kepercayaan diri, kebanggaan, dan motivasi para pembuat film lokal untuk terus berkarya.

Ia mengatakan, "Saya rasa semakin banyak sineas lokal diakui, semakin besar kepercayaan diri yang terbangun, semakin semakin besar kebanggaan yang mereka miliki atas karya mereka. Itulah mengapa kami juga memulai kategori baru Tapestry of Indonesia sehingga menjadi kesempatan bagi suara-suara dari seluruh Indonesia."

Balinale juga membuka ruang lebih besar bagi karya-karya yang mengangkat potensi daerah dan kearifan lokal Indonesia.

Berdasarkan pengalaman selama 19 tahun penyelenggaraan, Deborah mendorong para pembuat film untuk lebih terbuka terhadap realitas dan lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi.

Ia mengatakan, "Kami ingin seterbuka mungkin, kami tidak ingin membatasi pada tema-tema tertentu, artinya jika membuat film, maka kamu memastikan semua yang dibutuhkan ada, baik itu penyampaian pesan maupun produksinya."

Menurut Deborah, dunia internasional sangat mengapresiasi film-film Indonesia yang mengangkat budaya dan kearifan lokal.

Menjelang penyelenggaraan Balinale ke-20, festival tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah untuk menggairahkan industri film Indonesia dan mendorong partisipasi sineas muda.

Deborah mengatakan, “Maka itu di Balinale ke-20 kami membuka kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah untuk menggairahkan film Indonesia, terutama yang para pemuda untuk ikut festival karena dengan adanya festival mereka bisa mengukur kualitas dibanding dari pemain-pemain film dunia, ada banyak waktu untuk mengangkat potensi sekitar dan festival adalah strateginya.”

Penulis :
Gerry Eka