
Pantau - Kaset, CD, dan piringan hitam tetap memiliki pasar di tengah semakin mudahnya masyarakat mengakses musik melalui layanan streaming, dengan anak muda turut menjadi konsumen baru produk musik fisik.
Pengelola Wow Records di Blok M Square, Jakarta Selatan, Andrash mengatakan bisnis rilisan fisik yang ditekuninya sejak 2019 masih berjalan relatif stabil.
“Awalnya memang suka ngumpulin rilisan fisik kaset, CD, PH, terus coba jualan dan ternyata oke juga. Bisnis ini di samping hobi juga menghasilkan,” kata Andrash.
Andrash awalnya menitipkan koleksi yang dijual di toko milik temannya sebelum membuka toko sendiri menjelang akhir 2019.
Anak Muda Ikut Berburu Rilisan Fisik
Andrash melihat perubahan pasar dengan semakin banyaknya anak muda dan pelanggan baru yang membeli rilisan fisik.
“For perubahan tren memang ada dan pasar juga berubah,” ujarnya.
Pelanggan muda tidak hanya mencari musik lawas, tetapi juga rilisan dari awal 1990-an hingga musik masa kini.
“Kita sebagai seller harus bisa menyediakan sesuai permintaan pasar,” kata Andrash.
Menurut Andrash, calon kolektor piringan hitam juga kerap datang untuk meminta saran mengenai cara memulai koleksi.
Ia menyarankan calon kolektor membeli rilisan yang diinginkan terlebih dahulu karena piringan hitam yang stoknya telah habis di pasaran dapat mengalami kenaikan harga.
“Pilih musik yang mereka suka dan selanjutnya baru ngulik-ngulik musik yang baru,” ujarnya.
Pengunjung bernama Raka Pratama (27) mengatakan dirinya masih membeli CD meskipun musik dapat didengarkan dengan mudah melalui layanan streaming.
“Kalau streaming memang lebih praktis, tapi saya tetap suka beli CD karena ada rasa puas ketika punya bentuk fisiknya. Bisa melihat cover, artwork, booklet-nya. Kalau albumnya memang saya suka, rasanya kurang lengkap kalau hanya mendengarkan lewat streaming,” ujar Raka.
Pengalaman Fisik Jadi Daya Tarik
Andrash menilai perkembangan layanan musik digital tidak menjadi hambatan besar karena rilisan fisik masih memiliki peminat.
“Ada sih, tapi enggak terlalu gimana-gimana ya, karena masih banyak peminat rilisan fisik juga,” kata Andrash.
Menurut dia, pengalaman memiliki sebuah album secara fisik menjadi salah satu daya tarik yang tidak diperoleh ketika hanya mendengarkan musik melalui layanan digital.
“Beda lah. Dengan punya rilisan fisik kita bisa pegang barangnya, terus denger musik sambil melihat-lihat cover-nya, artwork-nya, terus sambil baca-baca liriknya, dan ada kebanggaan tersendiri yang cuma bisa dirasain sama pembeli itu sendiri,” ujar Andrash.
Bisnis rilisan fisik tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama biaya barang impor dan potongan penjualan melalui marketplace.
Kenaikan pajak barang impor dapat mendorong penjual menyesuaikan harga, sedangkan biaya dari marketplace dapat mengurangi pendapatan penjual.
Secara global, International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) mencatat pendapatan musik rekaman dalam format fisik meningkat 8 persen pada 2025 menjadi sekitar 5,3 miliar dolar AS.
Andrash mengatakan kaset, CD, dan piringan hitam saat ini sama-sama memiliki peminat sehingga pasar rilisan musik fisik masih bertahan di tengah era streaming.
- Penulis :
- Aditya Yohan




