
Pantau - Programmer asal Indonesia, Raslene, memilih enam film Asia Tenggara bertema Side by Side untuk ditampilkan dalam program CROSSCUT ASIA+ pada Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026 yang berlangsung pada 26 Oktober hingga 4 November di Tokyo, Jepang.
Dalam proses kurasi tersebut, Raslene bekerja sama dengan programmer asal Jepang, Masayuki Ueda, untuk menentukan film-film yang dapat merepresentasikan hubungan sejarah, budaya, dan perkembangan sinema di kawasan Asia Tenggara.
Raslene menjelaskan bahwa tugas seorang programmer festival film tidak hanya menonton dan memilih karya, tetapi juga menyusun konsep serta konteks yang menghubungkan film-film dalam satu program.
"Tugasnya, yang pasti, satu, menonton. Kita menonton sekian banyak film, lalu kita kurasi, kita utak-atik menjadi satu program. Termasuk kita pikirkan konteksnya, objektifnya mau ke mana, intensinya mau membicarakan apa, begitu-begitu sih," ujar Raslene dalam wawancara bersama ANTARA di sela TIFF 2026.
Proses Kurasi Melibatkan Programmer Indonesia dan Jepang
Raslene mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam CROSSCUT ASIA+ bermula dari proses seleksi terbuka atau open call yang mengundang sejumlah programmer mengajukan proposal.
Ia mengusulkan konsep program yang berfokus pada film-film Asia Tenggara beserta gagasan mengenai hubungan antarkarya dalam kawasan tersebut.
Penyelenggara kemudian memasangkan Raslene dengan Masayuki Ueda karena keduanya memiliki pendekatan dan sudut pandang yang hampir serupa dalam melihat sinema Asia Tenggara.
Meski memiliki gagasan yang sejalan, keduanya sempat menghadapi perbedaan pilihan film dan titik awal penyusunan program.
Raslene memberikan berbagai penjelasan mengenai sejarah, kebiasaan, dan kebudayaan Asia Tenggara untuk memperkaya perspektif rekan kuratornya dari Jepang.
Keduanya juga melakukan perjalanan riset ke Singapura dan menjalani diskusi intensif sebelum menentukan susunan program pada akhir Juli atau Agustus 2026.
Tema Side by Side Angkat Sejarah dan Hubungan Sinema Asia Tenggara
Raslene menjelaskan bahwa tema Side by Side tidak hanya menggambarkan kedekatan geografis negara-negara Asia Tenggara, tetapi juga hubungan sejarah, waktu, dan pengalaman yang direkam melalui sinema.
Dari enam film yang dikurasi dalam program tersebut, Raslene memilih tiga karya, yakni Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi), Turang, dan Behind the Flickering Light: The Archive.
Film dokumenter Behind the Flickering Light: The Archive dipilih untuk mengangkat pembahasan mengenai arsip dan dokumentasi dalam sejarah perfilman.
Sementara itu, Turang menjadi salah satu pilihan karena merupakan film klasik yang sempat hilang dan memiliki kisah tersendiri dalam perjalanan sinema.
Raslene juga menyoroti pentingnya kerja sama produksi antarnegara Asia Tenggara sebagai salah satu gagasan yang ingin ditampilkan melalui program tersebut.
Ia mencontohkan film Empat Musim Pertiwi yang melibatkan produser bersama dari berbagai negara.
Menurut Raslene, proses produksi film tersebut juga menarik karena sutradara Kamila Andini melibatkan Sekolah Pemikiran Perempuan dalam proses riset dan finalisasi naskah.
Raslene Soroti Keberanian Film Indonesia Mengangkat Isu Sosial
Dalam pembicaraan mengenai perkembangan perfilman Indonesia, Raslene menilai sejumlah karya terbaru menunjukkan keberanian dalam mengangkat persoalan sosial yang relevan.
Ia menyebut Empat Musim Pertiwi dan Laut Bercerita sebagai contoh film Indonesia yang menarik perhatian karena pendekatannya terhadap isu-isu tersebut.
"Contoh yang paling menarik menurutku mungkin "Pertiwi" dan "Laut Bercerita." Dua film itu fresh banget dan cukup vokal dalam membicarakan isu-isu yang relevan," ujar Raslene.
Menurut dia, film dapat menjadi sarana untuk menghadirkan pembicaraan kritis mengenai persoalan yang terjadi dalam masyarakat.
Raslene juga memandang sinema sebagai medium yang mampu merekam pengalaman sejarah dan kehidupan sosial melalui berbagai pendekatan penceritaan.
Penonton Lokal Dinilai Penting bagi Perkembangan Film Indonesia
Selain membahas festival internasional, Raslene menekankan bahwa perkembangan perfilman Indonesia tidak dapat hanya bergantung pada pengakuan dari ajang internasional.
Ia menilai dukungan penonton dalam negeri menjadi fondasi penting agar karya sineas Indonesia semakin dikenal secara luas.
"Menurutku, kita harus mulai dari audiens lokal kita sendiri. Kalian menonton tidak kalau ada film Indonesia yang dirilis? Itu dulu. Dari sana, pasti bisa berkembang. Kalau kita sendiri sebagai orang Indonesia menonton film Indonesia, you know what you have in your country. Kamu bisa merekomendasikannya kepada teman-teman, itu juga berhasil," katanya.
Menurut Raslene, masyarakat yang mengenal karya perfilman negaranya sendiri dapat turut memperkenalkan film tersebut kepada orang lain.
Ia mengakui festival internasional tetap memiliki peran penting, terutama dalam membuka akses terhadap industri, pasar, dan jejaring bisnis perfilman.
Namun, keberhasilan memperkenalkan film Indonesia tidak harus selalu bergantung pada label maupun pengakuan festival internasional.
Melalui program CROSSCUT ASIA+ di TIFF 2026, Raslene dan Masayuki Ueda menghadirkan pilihan film Asia Tenggara yang menyoroti hubungan budaya, sejarah, arsip, dan kerja sama produksi di kawasan tersebut.
- Penulis :
- Gerry Eka




