
Pantau - Nyeri dada kerap memicu kepanikan. Rasa perih, tertekan, hingga sulit menarik napas sering langsung dikaitkan dengan penyakit jantung.
Di sisi lain, tak sedikit orang menganggapnya sekadar asam lambung atau “masuk angin”. Di antara dua asumsi itu, banyak yang akhirnya memilih menebak sendiri—tanpa pemeriksaan medis.
Media sosial dipenuhi cerita serupa. Ada yang mengaku sempat cemas berhari-hari karena takut terkena gangguan jantung, ada pula yang awalnya mengira hanya masalah lambung sebelum rasa sakitnya makin tak tertahankan.
Salah satu pengguna media sosial bahkan mengingatkan bahaya menyamakan gejala ringan dengan kondisi serius seperti angin duduk.
Dia menekankan, konsumsi obat tradisional tanpa kepastian diagnosis bisa berisiko fatal, terutama jika ternyata berkaitan dengan jantung.
Curhatan lain datang dari warganet yang mengaku pernah mengalami GERD dan sempat mengira hanya masuk angin biasa.
Setelah mengonsumsi obat herbal, keluhan justru terasa makin berat sebelum akhirnya menyadari sumber masalahnya adalah asam lambung. Secara medis, kemiripan gejala ini memang kerap membingungkan.
Dalam artikel kesehatan yang ditinjau dr. Fadhli Rizal Makarim di platform kesehatan Halodoc, dijelaskan bahwa letak kerongkongan yang berdekatan dengan jantung membuat sensasi nyerinya bisa terasa mirip.
“Nyeri dada akibat GERD memang mirip dengan serangan jantung, karena sama-sama menimbulkan sensasi perih dan tekanan di dada,” tulis artikel tersebut.
Meski demikian, ada perbedaan penting yang perlu dikenali. Pada kasus GERD atau heartburn, nyeri biasanya terasa panas atau terbakar di dada.
Keluhan umumnya muncul setelah makan—terutama makanan pedas atau berlemak—serta saat membungkuk atau berbaring.
Gejala ini sering disertai rasa asam di mulut, perut kembung, dan cenderung mereda setelah minum obat penurun asam lambung.
Sebaliknya, nyeri akibat gangguan jantung terasa seperti ditekan, diremas, atau dihimpit beban berat. Kondisi ini bisa muncul kapan saja, terutama saat aktivitas fisik atau stres emosional.
Gejala lain yang patut diwaspadai antara lain sesak napas, keringat dingin, pusing, mual, serta nyeri yang menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang. Obat maag tidak akan meredakan kondisi ini.
Dalam artikel lain, Halodoc juga menegaskan, angin duduk atau angina pektoris merupakan kondisi serius akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung.
“Tak sedikit orang yang tidak tahu perbedaan antara masuk angin dan angin duduk. Walaupun gejalanya mirip, angin duduk bisa lebih membahayakan ketimbang masuk angin,” tulis artikel tersebut.
Pesannya jelas: jangan berspekulasi saat nyeri dada muncul. Menganggapnya sepele atau sekadar mengandalkan obat bebas tanpa evaluasi medis bisa menjadi keputusan yang berisiko.
Jika nyeri dada disertai gejala yang mengarah pada gangguan jantung, segera cari pertolongan medis. Memastikan kondisi di fasilitas kesehatan jauh lebih aman daripada mengambil risiko yang bisa berujung fatal.
- Penulis :
- Khalied Malvino







