Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Mengenal Cara Kerja Skrining Pendengaran Anak Sejak Dini untuk Cegah Gangguan Tuli Sejak Lahir

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Mengenal Cara Kerja Skrining Pendengaran Anak Sejak Dini untuk Cegah Gangguan Tuli Sejak Lahir
Foto: (Sumber : Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K) (kanan) menjadi pembicara dalam siaran langsung bertajuk "Diagnosis dan Intervensi Dini Gangguan Pendengaran" yang diselenggarakan RSCM Kencana, Rabu (4/3/2026). (ANTARA/Livia Kristianti).)

Pantau - Skrining pendengaran pada anak sejak usia dua hari penting dilakukan untuk mendeteksi dini potensi gangguan tuli demi menjaga kualitas hidup, fungsi komunikasi, dan tumbuh kembang anak secara optimal.

Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo RSCM Kencana, dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K), memperkenalkan mekanisme skrining agar mudah dipahami masyarakat awam.

"Jadi mulai anak usia dua hari itu sudah bisa melakukan skrining pendengaran. Kita bisa melakukan pemeriksaan dengan dua alat yaitu OAE atau Otoaucoustic Emissions dan BERA atau Brainstem Evoked Response Audiometry," ungkapnya.

Metode OAE dan BERA dalam Skrining Dini

Dua alat yang digunakan dalam skrining pendengaran adalah OAE atau Otoacoustic Emissions dan BERA atau Brainstem Evoked Response Audiometry.

Hasil pemeriksaan dari kedua alat tersebut akan ditampilkan dalam bentuk "pass" dan "refer".

Hasil "pass" menunjukkan tidak ada masalah pendengaran pada anak.

Hasil "refer" menunjukkan adanya potensi masalah pada organ pendengaran sehingga perlu pemeriksaan lanjutan.

Skrining OAE merupakan metode yang paling umum ditemukan di fasilitas kesehatan karena menargetkan fungsi sel rambut di bagian koklea atau rumah siput di dalam telinga.

Hasil tes OAE tidak langsung menegaskan adanya gangguan pendengaran karena hanya memeriksa kondisi koklea sehingga masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

BERA merupakan skrining yang mengukur respons listrik otak terhadap suara untuk mengetahui ambang dengar bayi.

"BERA sendiri adalah pemeriksaan untuk melihat ambang dengarnya di bayi tersebut. Apakah mengalami suatu gangguan atau tidak," jelas dr. Fikry.

Tahapan 1,3,6 dan Pentingnya Rehabilitasi Dini

Hasil skrining dari OAE dan BERA tidak langsung menentukan diagnosis akhir gangguan pendengaran pada anak karena harus melalui tahapan "1,3,6".

Tahapan tersebut berarti skrining dilakukan pada usia satu bulan, kemudian tiga bulan, dan observasi berlanjut hingga enam bulan.

Jika pada bulan pertama anak mendapat hasil "refer", maka akan dilakukan skrining ulang dan pemantauan fungsi pendengaran hingga usia enam bulan.

"Di usia enam bulan itu kita baru bisa mendiagnosis apakah anak ini benar-benar mengalami gangguan tuli sejak lahir atau tidak. Sehingga seandainya ditemukan kita bisa melakukan langsung rehabilitasi pada usia enam bulan tersebut," tegasnya.

Jika pada usia enam bulan terdiagnosis gangguan tuli sejak lahir, maka rehabilitasi seperti terapi mendengar atau Auditory Verbal Therapy (AVT), pemasangan alat bantu dengar, hingga implan koklea dapat segera dilakukan untuk menjaga kualitas hidup anak.

Skrining pendengaran sejak dini sejalan dengan peringatan World Hearing Day atau Hari Pendengaran Sedunia 2026 yang mengusung tema nasional "From communities to classrooms:hearing care for all children" atau Dari komunitas ke kelas:layanan pendengaran untuk semua anak.

Tema tersebut dipilih karena gangguan pendengaran pada anak dapat menimbulkan masalah tumbuh kembang hingga gangguan interaksi sosial jika tidak ditangani dengan tepat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 31 Desember 2025 melalui program Cek Kesehatan Gratis, sebanyak 18,6 juta orang berusia tujuh tahun ke atas telah mengikuti skrining pendengaran dan 1,8 persen di antaranya ditemukan memiliki gangguan kesehatan pada telinga.

Data tersebut sejalan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yang menyebutkan bahwa 3 dari 100 orang di Indonesia mengalami gangguan telinga.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti