Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

IDAI Ingatkan Penggunaan Gawai Berlebihan Picu Gangguan Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IDAI Ingatkan Penggunaan Gawai Berlebihan Picu Gangguan Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Seorang anak bermain menggunakan gawai. (Pixabay/Mirko Sajkov).)

Pantau - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan dan tumbuh kembang anak, terutama pada usia 5 hingga 15 tahun.

Anggota IDAI Tuty Herawati menyatakan dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga berkaitan dengan sistem saraf anak.

Ia mengatakan, "Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan," ungkapnya.

Risiko Gangguan Fisik dan Perkembangan

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan gangguan postur tubuh, otot, hingga fungsi saraf yang dapat bertahan hingga anak dewasa.

Risiko tersebut dipengaruhi oleh intensitas dan durasi penggunaan gawai serta keseimbangan dengan aktivitas lain seperti bermain di luar ruangan dan olahraga.

Anak yang aktif secara fisik dan memiliki variasi aktivitas dinilai memiliki risiko lebih rendah dibandingkan dengan anak yang terus-menerus terpapar layar.

Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas untuk melindungi anak dari dampak negatif penggunaan teknologi digital.

Pentingnya Variasi Stimulasi Otak Anak

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Rose Mini Agoes Salim menekankan pentingnya variasi stimulasi bagi perkembangan otak anak.

Ia mengatakan, "Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi," ujarnya.

Menurutnya, kurangnya variasi stimulasi dapat menyebabkan perkembangan otak tidak optimal atau disebut brain drop.

Ia menambahkan, "Yang membuat otak berkembang bukan ukuran, tetapi banyaknya koneksi antar-saraf," katanya.

Penggunaan teknologi tetap dapat dimanfaatkan, namun tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi bagi anak.

Penulis :
Aditya Yohan