HOME  ⁄  Lifestyle

Kekhawatiran Produksi ASI Masih Tinggi, Ahli Ungkap Penyebab dan Tanda Bayi Cukup ASI

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kekhawatiran Produksi ASI Masih Tinggi, Ahli Ungkap Penyebab dan Tanda Bayi Cukup ASI
Foto: (Sumber : Ilustrasi ibu menyusui. ANTARA/HO-Shutterstock/Golfx.)

Pantau - Kekhawatiran mengenai kecukupan produksi ASI masih sering dialami ibu menyusui, terutama pada masa awal setelah melahirkan, meski sebagian besar kasus bukan disebabkan kekurangan ASI secara fisiologis.

Kesalahpahaman Produksi ASI pada Ibu Menyusui

Survei Nasional Menyusui dan Pemberian Makan Anak 2021/2022 di Singapura menunjukkan hanya sekitar 46 persen ibu menyusui secara eksklusif hingga tiga bulan.

Angka tersebut menurun menjadi sekitar 35 persen pada bayi usia empat hingga lima bulan, dan hanya 3,3 persen bayi yang masih mendapatkan ASI eksklusif hingga usia enam bulan.

Perawat senior sekaligus konsultan laktasi bersertifikasi internasional Nurhanesah A Rahman menjelaskan bahwa kekurangan ASI yang dirasakan lebih umum dibandingkan kekurangan secara fisiologis.

Ia mengungkapkan, "Kesalahpahaman ini seringkali menyebabkan para ibu memberikan susu formula tambahan atau berhenti menyusui, bahkan ketika bayi mereka mendapatkan cukup ASI dan tumbuh normal."

Konsultan laktasi Chen Liqin menambahkan bahwa frekuensi menyusui delapan hingga 12 kali sehari merupakan hal normal bagi bayi baru lahir.

Ia menjelaskan, "Bayi baru lahir memiliki perut yang sangat kecil dan tidak mampu menampung ASI dalam jumlah besar sekaligus."

Tanda Bayi Mendapatkan ASI yang Cukup

Chen mengatakan pemberian ASI sebaiknya mengikuti isyarat lapar bayi, bukan berdasarkan jadwal waktu yang kaku.

Ia mengungkapkan, "Oleh karena itu, pemberian ASI berdasarkan isyarat lapar bayi, dan bukan berdasarkan waktu secara ketat, umumnya direkomendasikan."

Pola menyusui yang sering dalam waktu singkat pada sore atau malam hari juga disebut sebagai hal normal karena dipengaruhi hormon prolaktin.

Menurut Nurhanesah, bayi yang mendapatkan ASI cukup akan menunjukkan tanda seperti terdengar suara menelan dan payudara ibu terasa lebih lembut setelah menyusui.

Ia mengatakan, "Bayi akan tampak kenyang setelah menyusu, berat badannya bertambah stabil, dan jumlah penggantian popoknya memadai."

Sebaliknya, tanda kekurangan ASI meliputi bayi yang terus gelisah, frekuensi popok basah yang rendah, hingga kenaikan berat badan yang tidak optimal.

Para ahli menyarankan agar ibu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika menemukan tanda tersebut untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Penulis :
Aditya Yohan