
Pantau - Psikolog Jeffrey Bernstein mengungkap tiga penyebab utama overthinking kian parah saat seseorang sendirian, salah satunya karena tidak adanya pemeriksaan realitas dan interaksi sosial yang dapat meredam pikiran berulang.
Dalam laporannya di Psychology Today, Bernstein menjelaskan bahwa overthinking muncul ketika seseorang terus memutar pikiran tanpa referensi eksternal untuk menguji realitas.
Ia menyebut kondisi tersebut membuat otak tidak mendapatkan kalibrasi emosional sehingga pikiran negatif seperti ketakutan akan kegagalan atau penilaian orang lain menjadi semakin intens.
Minim Interaksi Sosial Picu Pikiran Berulang
Bernstein menggunakan istilah “social buffering” untuk menjelaskan pentingnya kehadiran orang lain dalam meredam overthinking.
Ia menjelaskan bahwa melihat atau berada di sekitar orang lain dapat memutus lingkaran pikiran yang berulang.
Menurut dia, berada di lingkungan sosial membantu sistem saraf menjadi lebih stabil dan mengalihkan fokus dari pikiran cemas.
Masalah Terasa Lebih Besar Saat Sendirian
Ia juga menilai kesendirian membuat seseorang cenderung membesar-besarkan masalah kecil menjadi skenario yang lebih buruk.
Kehadiran orang lain dinilai mampu memberikan perspektif bahwa masalah yang dihadapi hanyalah sebagian kecil dari kehidupan.
Selain itu, overthinking disebut tumbuh dalam kondisi tidak aktif atau stagnan.
Bernstein memperkenalkan metode PACE untuk mengatasinya, yakni pause atau berhenti sejenak, acknowledge atau mengakui kondisi, contain atau menahan diri, serta engagement atau kembali terlibat dalam aktivitas.
“Tanpa kepatuhan, mekanisme verifikasi usia, moderasi konten, dan kontrol orang tua menjadi tidak optimal. Hal itu berisiko langsung pada keselamatan dan perkembangan anak di ruang digital,” ujarnya.
Ia menegaskan keterlibatan dengan lingkungan sosial menjadi kunci untuk keluar dari siklus overthinking dan kembali pada tindakan nyata.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








