HOME  ⁄  Lifestyle

Festival Rujak Uleg 2026 Ramaikan Surabaya dengan Cobek Raksasa dan Nuansa Budaya Modern

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Festival Rujak Uleg 2026 Ramaikan Surabaya dengan Cobek Raksasa dan Nuansa Budaya Modern
Foto: (Sumber: Peserta mengikuti Festival Rujak Uleg 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2026). Pemerintah Kota Surabaya menggelar festival bertema Rujak Phoria untuk menyambut HUT Ke-733 Kota Surabaya dengan konsep pesta Piala Dunia yang diikuti 136 tim dari komunitas, instansi pemerintah, dan swasta. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/tom.)

Pantau - Festival Rujak Uleg 2026 kembali digelar di Surabaya dengan cobek-cobek raksasa sebagai pusat perhatian dalam perayaan budaya dan kuliner Kota Pahlawan.

Festival berlangsung di Surabaya Expo Center dengan suasana penuh keramaian, aroma terasi dan petis, serta kostum bertema sepak bola dunia.

Festival tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kota Surabaya atau HJKS ke-733.

Tema “Rujak Phoria” disebut bukan sekadar permainan kata dari euforia, tetapi strategi budaya untuk menghubungkan tradisi lokal dengan imajinasi global.

Dalam festival itu, rujak cingur digambarkan bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan simbol identitas Surabaya yang terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi kota.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir langsung di tengah kerumunan warga dan berbaur dalam suasana pesta rakyat.

Kehadiran Eri Cahyadi dinilai mempertegas pesan bahwa festival budaya merupakan ruang kolektif masyarakat, bukan sekadar seremoni formal pemerintah.

Festival Jadi Penggerak Ekonomi dan Pariwisata Kota

Festival Rujak Uleg 2026 juga dinilai menunjukkan bagaimana Surabaya membangun identitas kota melalui tradisi yang terus diremajakan.

Penyelenggaraan festival tahun sebelumnya tercatat menghasilkan perputaran ekonomi lebih dari Rp1 miliar dengan puluhan ribu pengunjung.

Tahun ini, skala festival meningkat setelah masuk dalam Karisma Event Nusantara atau KEN yang memperluas promosi hingga tingkat nasional.

Dampak festival dirasakan berbagai sektor mulai dari hotel, agen perjalanan, pelaku UMKM, hingga industri kreatif lokal.

Festival Rujak Uleg disebut tidak lagi berdiri hanya sebagai festival kuliner, tetapi menjadi bagian dari jaringan ekonomi pariwisata Kota Surabaya.

Surabaya dinilai mulai menerapkan model pembangunan kota berbasis event dengan memanfaatkan kalender budaya sebagai penggerak ekonomi selain pembangunan infrastruktur fisik.

Konsep sport fashion, parade kreatif, dan integrasi tema global seperti Piala Dunia disebut menjadi upaya menarik minat generasi muda yang visual dan digital.

Pemkot Surabaya Jaga Keseimbangan Budaya dan Pariwisata

Di balik keberhasilan festival, muncul kekhawatiran budaya lokal berubah menjadi sekadar komoditas tontonan akibat arus industri pariwisata.

Rujak cingur yang sebelumnya menjadi simbol keseharian masyarakat dikhawatirkan kehilangan akar sosial jika hanya dijadikan atraksi wisata.

Pemerintah Kota Surabaya dinilai mencoba menjaga keseimbangan antara atraksi dan otentisitas budaya melalui model festival yang partisipatif.

Festival melibatkan 36 meja RW, komunitas kampus, hingga pelaku sentra wisata kuliner sehingga masyarakat tetap menjadi aktor utama, bukan hanya penonton.

Selain aspek budaya dan ekonomi, festival juga menyoroti tantangan tata kelola kota seperti pengaturan parkir, rekayasa lalu lintas, keamanan, hingga pengelolaan sampah.

Pemerintah Kota Surabaya disebut telah menyiapkan kantong parkir dan imbauan ketertiban bagi pengunjung untuk mengantisipasi kepadatan selama acara berlangsung.

Masuknya Festival Rujak Uleg ke dalam Karisma Event Nusantara menuntut standar baru agar festival tidak hanya meriah, tetapi juga profesional, inklusif, dan berkelanjutan.

Pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan limbah organik, serta penguatan transportasi publik disebut menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan festival di masa depan.

Festival Rujak Uleg juga dinilai dapat menjadi ruang edukasi publik mengenai pangan lokal, sejarah kota, perdagangan masa lalu, dan dinamika sosial masyarakat pesisir Jawa Timur.

Festival Rujak Uleg 2026 disebut memperlihatkan wajah Surabaya sebagai kota yang terus bergerak di antara tradisi dan modernitas.

Penulis :
Gerry Eka