HOME  ⁄  Lifestyle

Penelitian Ungkap Stres Ayah Sebelum Pembuahan Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Penelitian Ungkap Stres Ayah Sebelum Pembuahan Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Foto: (Sumber : Ilustrasi -- Masalah stres pada pria. (Pixabay).)

Pantau - Penelitian dari Universitas Colorado Anschutz mengungkap stres yang dialami ayah sebelum pembuahan dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan awal anak melalui perubahan biologis pada sperma.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal iScience itu menunjukkan stres berkepanjangan meningkatkan molekul RNA non-coding kecil bernama let-7f-5p dalam garis keturunan ayah.

Menurut laporan Neuroscience News pada Rabu (27/5), molekul tersebut ditemukan meningkat dalam sperma ketika seseorang mengalami tekanan berkepanjangan.

Sperma Bawa Sinyal Biologis Akibat Stres

Para peneliti menemukan molekul responsif terhadap stres tersebut dapat memengaruhi perkembangan embrio pada tahap paling awal dan berdampak pada pertumbuhan anak setelah lahir.

Penelitian pada tikus dilakukan dengan meningkatkan kadar let-7f-5p pada sel telur yang telah dibuahi untuk meniru efek biologis stres pada ayah.

Hasil penelitian menunjukkan anak tikus jantan yang terpapar kadar molekul lebih tinggi mengalami pertumbuhan tubuh lebih besar dan tulang lebih panjang meski memiliki pola makan normal.

Penulis utama studi Tracy Bale mengatakan sperma tidak hanya membawa informasi genetik, tetapi juga sinyal biologis yang dipengaruhi pengalaman hidup seseorang.

“Mereka membawa informasi tentang pengalaman seorang ayah yang dapat membentuk perkembangan awal dan kesehatan jangka panjang,” ungkap Bale.

Peneliti Ingatkan Pentingnya Kelola Stres

Ketua Departemen Psikiatri Universitas Colorado Anschutz Neill Epperson menyebut temuan tersebut memperkuat bukti bahwa kondisi biologis sebelum pembuahan dapat berubah akibat pengalaman hidup.

Peneliti menjelaskan stres berkepanjangan seperti tekanan pekerjaan, masalah finansial, atau merawat anggota keluarga yang sakit parah dapat meningkatkan kadar molekul tersebut dalam sperma.

“Stres berkepanjangan seperti merawat anggota keluarga yang sakit parah, bekerja di pekerjaan yang bertekanan tinggi, atau mengatasi tekanan finansial dapat meningkatkan kadar molekul ini dalam sperma,” jelas Bale.

“Ini seperti stres seorang ayah secara diam-diam mendorong pengaturan pertumbuhan tubuh, dengan efek yang muncul kemudian dalam kehidupan,” lanjutnya.

Para peneliti menekankan pentingnya mengelola stres, menjaga pola makan, tidur cukup, dan mendapatkan dukungan emosional sebelum merencanakan kehamilan.

“Merawat diri kita sendiri sebelum pembuahan adalah bagian penting dari perencanaan untuk memiliki anak yang sehat,” kata Bale.

Penulis :
Ahmad Yusuf