HOME  ⁄  Lifestyle

Forum Internasional Soroti Strategi Skrining Kanker Kolorektal Jepang, Taiwan, dan Indonesia dengan Pendekatan FIT dan Kolono

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Forum Internasional Soroti Strategi Skrining Kanker Kolorektal Jepang, Taiwan, dan Indonesia dengan Pendekatan FIT dan Kolono
Foto: The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) di Jakarta pada Sabtu (30/5/2026) dihadiri oleh sejumlah pakar dan pejabat kesehatan lintas negara, termasuk Dr. Siti Nadia Tarmizi (Kemenkes RI), Koji Onda (Olympus Medical Indonesia), Prof. Takahisa Matsuda (Jepang), Prof. Ari Fahrial Syam (PB PGI), Prof. Murdani Abdullah (IMERI FKUI), dan Prof. Han-Mo Chiu (Taiwan). (sumber: Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia

Pantau - Forum internasional membahas strategi skrining kanker kolorektal di Jepang, Taiwan, dan Indonesia menyoroti penggunaan Fecal Immunochemical Test (FIT) serta tantangan tindak lanjut kolonoskopi.

Jepang menerapkan skrining tahunan menggunakan FIT mulai usia 40 tahun sebagai langkah awal deteksi kanker kolorektal.

Program tersebut dipaparkan oleh President The Japanese Society of Gastrointestinal Cancer Screening, Prof. Takahisa Matsuda, MD, PhD.

FIT dinilai memiliki keunggulan karena biaya rendah, tidak invasif, dapat diperluas penggunaannya, serta terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal.

Prof. Matsuda menegaskan bahwa tantangan utama di Jepang bukan pada pelaksanaan FIT, tetapi pada tindak lanjut kolonoskopi.

Sekitar 30 persen individu dengan hasil FIT positif di Jepang tidak melanjutkan pemeriksaan kolonoskopi.

Strategi Skrining Jepang dan Tantangan Tindak Lanjut

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar dalam sistem skrining kanker kolorektal di Jepang.

Taiwan menjalankan program skrining FIT setiap dua tahun sejak 2004 untuk menekan angka kematian akibat kanker kolorektal.

Representative National Taiwan University & Hospital, Prof. Han-Mo Chiu, MD, PhD, menyampaikan bahwa program tersebut berhasil menurunkan 35 persen angka kematian akibat kanker kolorektal.

Taiwan juga mencatat penurunan 29 persen insiden kanker stadium lanjut pada peserta skrining.

Prof. Chiu menekankan bahwa keberhasilan skrining bergantung pada sistem terintegrasi, bukan hanya teknologi.

Taiwan menerapkan sistem call-recall, standardisasi laporan patologi, serta pengawasan ketat kualitas kolonoskopi melalui indikator adenoma detection rate (ADR).

Sejak 2025, Taiwan menurunkan usia awal skrining menjadi 45 tahun karena meningkatnya kasus kanker kolorektal usia muda.

Penguatan Sistem Skrining di Taiwan dan Indonesia<

Kepala Human Cancer Research Centre IMERI FKUI, Prof. DR Dr Murdani Abdullah, menyoroti keterbatasan kapasitas kolonoskopi di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas menjadi tantangan dalam pemerataan layanan skrining kanker kolorektal.

Strategi yang diusulkan adalah pelaksanaan bertahap melalui pilot project FIT di fasilitas layanan primer.

Kolonoskopi difokuskan di rumah sakit kabupaten atau kota sebagai pusat layanan lanjutan.

Sistem rujukan digital dinilai perlu diperkuat untuk mendukung alur pemeriksaan yang efektif.

Forum tersebut menghasilkan rekomendasi implementasi bertahap program FIT di wilayah percontohan.

Rekomendasi lain mencakup peningkatan kapasitas dan kualitas layanan kolonoskopi sebagai prioritas utama.

Integrasi data dan pembentukan registri nasional kanker kolorektal juga menjadi bagian dari rekomendasi.

Edukasi masyarakat secara luas serta pemanfaatan inovasi digital turut ditekankan dalam penguatan skrining.

Penerapan sistem stratifikasi risiko menggunakan metode penilaian seperti model 8 poin dari Jepang direkomendasikan untuk memprioritaskan pasien berisiko tinggi ke kolonoskopi.

Penulis :
Leon Weldrick