
Pantau - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) mendorong perubahan besar dalam standar kecantikan, di mana masyarakat kini mulai mengutamakan keaslian dan identitas diri dibanding mengejar kesempurnaan visual yang diciptakan secara digital.
Fenomena tersebut terlihat di tengah maraknya penggunaan filter digital dan teknologi penyuntingan yang mampu mengubah penampilan seseorang hanya dalam hitungan detik.
Teknologi AI memungkinkan penghapusan kerutan, perbaikan tekstur kulit, perubahan bentuk wajah, hingga menciptakan sosok yang sebenarnya tidak pernah ada.
AI Ciptakan Standar Kecantikan Baru
Perkembangan AI membuat algoritma mampu menentukan wajah yang dianggap menarik berdasarkan analisis jutaan data visual.
Kondisi tersebut memunculkan kecenderungan standar kecantikan yang semakin seragam dengan karakteristik wajah simetris, kulit mulus tanpa cela, dan proporsi tertentu.
Media sosial pun dipenuhi gambar yang telah melalui proses penyuntingan canggih sehingga batas antara realitas dan rekayasa digital semakin sulit dibedakan.
Namun di tengah tren tersebut, muncul kesadaran baru yang mempertanyakan apakah kecantikan harus selalu identik dengan kesempurnaan.
Tren Estetika Beralih ke Tampilan Alami
Pakar dan dokter estetika dr. Aji Bayu Chandra M.Biomed menjelaskan bahwa perkembangan dunia estetika saat ini tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
“Dalam perkembangan dunia estetika modern bukanlah kecepatan teknologi semata, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab,” ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat kini mulai mencari tampilan yang lebih manusiawi, nyata, dan sesuai dengan identitas diri masing-masing.
Perubahan itu tercermin dalam tren perawatan estetika modern yang lebih menekankan pada kesehatan kulit dan mempertahankan karakter alami wajah.
Fokus Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Jika sebelumnya banyak orang mengejar perubahan wajah yang drastis, tren saat ini bergeser ke arah peningkatan kualitas kulit tanpa menghilangkan ciri khas individu.
Pendekatan tersebut bertujuan membantu seseorang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, bukan mengubahnya menjadi sosok lain.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan AI yang mampu menciptakan kesempurnaan visual, nilai autentisitas justru semakin mendapat tempat di masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





