
Pantau - Air liur yang menetes saat tidur pada malam hari umumnya merupakan kondisi normal yang terjadi karena seseorang lebih jarang menelan dan memiliki kontrol sadar yang lebih sedikit terhadap otot di sekitar mulut selama tidur, meski perubahan kebiasaan dan penanganan sesuai penyebab dapat membantu menguranginya.
Posisi Tidur dan Kebiasaan yang Dapat Membantu
Direktur Medis Yale Centers for Sleep Medicine, Dr. Christine Won, menyebut tidur dalam posisi telentang sebagai posisi terbaik untuk membantu mengurangi keluarnya air liur saat tidur.
Ia mengungkapkan, "Jika Anda cenderung berguling-guling dan kesulitan tidur telentang, meletakkan bantal di sekitar tubuh Anda dapat berfungsi seperti penahan, menjaga posisi Anda tetap stabil."
Hidung tersumbat dan kebiasaan bernapas melalui mulut saat tidur juga dapat menyebabkan air liur lebih mudah keluar karena aliran udara melalui hidung menjadi terganggu.
Mengatasi penyebab hidung tersumbat, termasuk alergi atau pilek, dapat membantu memperlancar pernapasan melalui hidung dan mengurangi produksi air liur berlebih.
Penggunaan plester hidung juga dapat membantu melegakan pernapasan saat tidur.
Para ahli menyarankan untuk menghindari penggunaan plester mulut karena dapat mempersulit proses bernapas.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Pennsylvania, Dr. Mark Wolff, menjelaskan bahwa menghindari makanan dan minuman asam atau manis sebelum tidur dapat membantu mengurangi produksi air liur karena keduanya merangsang kelenjar ludah.
Ia mengatakan, "Refluks asam dapat memiliki efek serupa, jadi hindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur dan jauhi makanan pedas atau berlemak. Dan jika Anda menggunakan Invisalign, retainer, atau alat gigi lainnya di malam hari, cobalah untuk tidak menggerakkan gigi Anda, karena rangsangan mekanis semacam itu juga meningkatkan produksi air liur."
Kondisi yang Perlu Diwaspadai dan Pilihan Penanganan
Produksi air liur yang meningkat secara signifikan atau terasa sangat berlebihan, terutama jika juga terjadi pada siang hari, dianjurkan untuk diperiksakan ke dokter karena dapat menjadi tanda masalah kesehatan yang lebih serius.
Direktur Otolaringologi Pediatrik Johns Hopkins Medicine, Dr. Emily Boss, menjelaskan bahwa air liur yang menetes terkadang dapat menjadi indikasi sleep apnea atau kelainan struktural yang menyulitkan pernapasan melalui hidung.
Pada anak-anak, kondisi tersebut dapat dipicu pembesaran amandel atau adenoid yang menghalangi jalan napas.
Pada orang dewasa, jaringan yang longgar atau berlemak di bagian belakang tenggorokan juga dapat menghambat pernapasan dan menimbulkan efek serupa.
Ia mengungkapkan, "Air liur yang menetes juga dapat disebabkan oleh kondisi genetik dan neurologis yang memengaruhi kontrol otot atau menelan, seperti cerebral palsy, sindrom Down, penyakit Parkinson, demensia, ALS, atau stroke."
Penanganan air liur berlebih disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya, termasuk terapi gangguan saluran napas seperti tonsilektomi atau penggunaan mesin continuous positive airway pressure (CPAP).
Sebagian pasien juga dapat memperoleh manfaat dari latihan menelan atau terapi mulut untuk memperkuat koordinasi bibir, lidah, dan otot terkait.
Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat memberikan obat untuk mengurangi produksi air liur, menyuntikkan Botox ke kelenjar ludah untuk melumpuhkannya sementara, atau melakukan prosedur operasi pada kelenjar ludah.
Dr. Mark Wolff menambahkan, "Produksi air liur yang terlalu sedikit merupakan masalah yang lebih besar daripada produksi yang terlalu banyak."
- Penulis :
- Gerry Eka





