HOME  ⁄  Lifestyle

Penggunaan Bahan Alami untuk Perawatan Kulit Perlu Kehati-hatian, Dokter Kulit Ingatkan Risiko Iritasi dan Alergi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Penggunaan Bahan Alami untuk Perawatan Kulit Perlu Kehati-hatian, Dokter Kulit Ingatkan Risiko Iritasi dan Alergi
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Seorang wanita sedang mengunakan produk skincare untuk kulit)

Pantau - Penggunaan bahan-bahan alami yang tersedia di rumah untuk perawatan kulit berpotensi menimbulkan iritasi, mengganggu keseimbangan pH kulit, hingga meningkatkan risiko reaksi alergi apabila tidak dilakukan dengan benar.

Dokter Kulit Peringatkan Risiko Bahan Rumahan

Tren perawatan kulit rumahan semakin populer di media sosial karena bahan-bahannya mudah diperoleh, murah, dan dianggap alami sehingga banyak orang mengasumsikan metode tersebut aman digunakan.

Dokter kulit sekaligus pendiri Zolie Skin di New Delhi, India, Dr. Nirupama Parwanda, mengingatkan bahwa bahan alami tidak selalu aman bagi kulit dan penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Setiap orang memiliki jenis kulit dan kebutuhan perawatan yang berbeda sehingga metode yang cocok bagi seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama atau aman bagi orang lain.

Menurut Dr. Parwanda, bahan seperti jus lemon, soda kue, pasta gigi, dan minyak esensial yang digunakan tanpa pengenceran dapat mengganggu keseimbangan pH kulit.

Penggunaan bahan-bahan tersebut berpotensi menyebabkan kulit kering, kemerahan, iritasi, serta meningkatkan sensitivitas kulit terhadap berbagai pemicu dari lingkungan.

Dr. Parwanda mengungkapkan, "Ini adalah proses yang lambat dan dapat mengakibatkan kegagalan fungsi pelindung kulit, membuatnya lebih rentan terhadap stresor lingkungan. Seseorang juga dapat mengalami reaksi alergi atau dermatitis kontak."

Reaksi Alergi dan Risiko Kontaminasi Perlu Diwaspadai

Selain bahan yang umum digunakan di rumah, kayu manis, bawang putih, serta ekstrak tumbuhan seperti neem dan lidah buaya juga dapat memicu reaksi alergi meskipun berasal dari bahan alami.

Risiko tersebut dapat meningkat apabila konsentrasi bahan, kontrol kualitas, dan pengujian keamanannya tidak dilakukan secara terstandardisasi.

Reaksi yang mungkin muncul meliputi peradangan, rasa gatal, sensasi terbakar, hingga ruam pada kulit.

Salah satu kondisi yang menjadi perhatian dokter adalah hiperpigmentasi pasca-inflamasi atau post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), yang disebut sebagai masalah kulit yang umum terjadi pada jenis kulit orang India.

Dr. Parwanda juga mengingatkan pentingnya memperhatikan cara penyimpanan bahan alami karena penyimpanan yang tidak baik dapat menyebabkan kontaminasi bakteri dan meningkatkan risiko infeksi pada kulit.

Penggunaan bahan alami untuk perawatan kulit tetap memerlukan kehati-hatian, pemahaman mengenai jenis kulit, serta perhatian terhadap keamanan dan kebersihan bahan yang digunakan.

Penulis :
Gerry Eka