HOME  ⁄  Lifestyle

Penelitian Ungkap Jalan Kaki Cepat Dapat Turunkan Risiko Gangguan Kognitif pada Lansia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Penelitian Ungkap Jalan Kaki Cepat Dapat Turunkan Risiko Gangguan Kognitif pada Lansia
Foto: (Sumber :Ilustrasi berjalan kaki di keseharian. (ANTARA/Pexels-Kaique Rocha).)

Pantau - Hasil gabungan tiga penelitian menemukan bahwa berjalan kaki dengan kecepatan lebih tinggi dapat mengurangi risiko gangguan kognitif pada usia lanjut hingga sekitar 50 persen dibandingkan mereka yang berjalan lebih lambat.

Penelitian Libatkan Sekitar 4.000 Peserta

Penelitian tersebut menggabungkan data dari Studi Kesehatan dan Pensiun AS (HRS-INS), studi LongGenity, dan studi RUSH MAP yang melibatkan sekitar 4.000 peserta.

Para peneliti mengumpulkan data mengenai kecepatan berjalan, hasil tes kognitif, pencitraan otak, otopsi otak, data demografis, riwayat keluarga, tingkat pendidikan, hingga diagnosis terkait demensia.

Dalam penelitian itu, kelompok yang disebut sebagai "penggerak super" merupakan peserta dengan kecepatan berjalan setidaknya 1,5 standar deviasi di atas rata-rata kecepatan berjalan orang seusianya.

Hasil analisis menunjukkan kelompok tersebut memiliki risiko gangguan kognitif sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan peserta yang bukan termasuk penggerak super.

Selain itu, peserta yang aktif secara fisik juga mengalami penurunan fungsi kognitif yang lebih lambat, memiliki volume hipokampus yang lebih besar, serta menunjukkan tingkat penyakit Alzheimer yang lebih rendah.

Jalan Cepat Dinilai Lebih Efektif

Peneliti menjelaskan berjalan kaki dengan intensitas lebih tinggi dinilai lebih efektif dalam menurunkan risiko demensia dibandingkan berjalan santai.

Peningkatan kecepatan berjalan membantu memperlancar aliran darah menuju otak serta meningkatkan produksi Faktor Neurotropik Turunan Otak (BDNF), protein yang berperan penting dalam menjaga fungsi kognitif.

Gerakan ayunan lengan saat berjalan cepat juga dinilai mampu mengaktifkan lebih banyak bagian otak.

Penelitian ini tetap memiliki sejumlah keterbatasan, termasuk adanya faktor pengganggu yang belum dianalisis serta jumlah sampel pencitraan otak yang relatif kecil.

Peneliti menyarankan masyarakat yang belum rutin berjalan kaki untuk memulai secara bertahap sesuai kondisi kebugaran, kemudian meningkatkan durasi, frekuensi, maupun intensitas latihan secara perlahan.

Bagi yang sudah terbiasa berjalan kaki, peningkatan intensitas dapat dilakukan melalui latihan interval atau memilih rute dengan tanjakan sambil tetap menggunakan alas kaki yang aman.

Penulis :
Aditya Yohan