
Pantau - Bakpia yang kini dikenal sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta merupakan hasil akulturasi budaya China dan Indonesia yang berkembang sejak 1940-an hingga akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2016.
Berawal dari Resep Asli China yang Disesuaikan dengan Budaya Lokal
Sebuah studi berjudul "Bakpia: Perjalanan Akulturasi China-Indonesia dalam Makanan Khas Yogyakarta" menjelaskan bahwa nama bakpia berasal dari dialek Hokkien, yaitu "bak" yang berarti daging dan "pia" yang berarti kue atau roti.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, bakpia diperkenalkan di Yogyakarta sekitar 1940-an oleh pria keturunan Tionghoa bernama Kwik Sun Kok setelah kembali dari China.
Resep awal bakpia menggunakan minyak babi sebagai bahan adonan dan daging babi sebagai isian sehingga kurang diminati oleh masyarakat Yogyakarta yang mayoritas beragama Islam.
Kwik kemudian mengganti minyak babi dengan minyak kelapa serta mengubah isian menjadi kacang hijau yang dicampur gula sehingga bakpia mulai diterima oleh masyarakat setempat.
Martiana mengatakan, "Cara pemasaran yang dilakukan masyarakat Tionghoa berbeda dengan masyarakat pribumi."
Ia mengungkapkan, "Masyarakat Jawa cenderung lebih menerima keadaan, sedangkan masyarakat Tionghoa lebih aktif dalam memperkenalkan produknya."
Ia melanjutkan, "Salah satu caranya adalah dengan membagikan resep kepada orang lain sehingga semakin banyak orang dapat membuat dan menjual bakpia."
Ia menambahkan, "Hal ini membuat bakpia semakin dikenal luas."
Menjadi Warisan Budaya dan Oleh-Oleh Ikonik
Popularitas bakpia semakin meningkat pada era 1980-an seiring berkembangnya Kampung Pathuk sebagai sentra industri bakpia rumahan yang menggunakan nomor rumah sebagai identitas produk.
Pada 2016, bakpia resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta meski bukan merupakan kuliner asli masyarakat Jawa.
Dinas Kebudayaan DIY menyatakan, "Bakpia merupakan produk akulturasi dari kudapan China yang bertahan hingga puluhan tahun, bahkan kemudian menjadi ikon Yogyakarta."
Keterangan tersebut melanjutkan, "Bakpia menjadi simbol pluralisme di kota tersebut."
Saat ini bakpia hadir dalam berbagai varian rasa seperti cokelat, keju, durian, dan matcha, serta diproduksi dengan metode modern termasuk menggunakan oven dan teknik bakpia kukus.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





