
Pantau - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut penguatan akhlak menjadi kunci untuk menghadapi krisis moral di tengah perkembangan teknologi dan algoritma yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Meutya menyampaikan hal tersebut dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta.
Menurut Meutya, cara Nabi Muhammad SAW menghadapi krisis moral pada masanya tetap relevan untuk diteladani masyarakat dalam menghadapi tantangan di era digital.
“Bagaimana caranya kita menang melawan krisis moral yang terjadi ditopang oleh algoritma di dunia digital yang mengganggu dan berdampak kepada warga se-Indonesia bahkan secara global? Jawabannya sudah ada, memperkuat akhlak,” kata Meutya dalam keterangannya yang diterima, Kamis (27/8/2026).
Teknologi dan Algoritma Memengaruhi Kehidupan Masyarakat
Meutya mengatakan tantangan moral di era digital memiliki bentuk berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya karena teknologi dan algoritma dapat memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi, berinteraksi, serta mengambil keputusan.
Kemajuan teknologi karena itu perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai dan akhlak agar ruang digital tetap aman dan produktif.
Meutya menilai akhlak harus menjadi pijakan dalam berbagai aktivitas masyarakat, pelaku industri, maupun pemerintah di ruang digital.
“Ketika kita beraktivitas ataupun kita mengawasi ranah digital, yang paling utama kita lihat adalah apakah berakhlak atau tidak, melakukannya mendukung akhlak yang baik atau tidak,” ungkapnya.
Menurut dia, teknologi yang dikembangkan dan digunakan harus mendukung kebaikan serta tidak menghasilkan dampak yang merugikan masyarakat.
Pembangunan Digital Harus Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga
Dalam lingkup Kementerian Komdigi, Meutya menekankan pembangunan konektivitas digital tidak sekadar bertujuan membuat masyarakat terhubung, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata.
“Ujungnya tentu harus berdampak. Kalau kita bangun tapi yang ada adalah hasil yang mudharat, jangan-jangan perlu di-rem saja. Kita tidak ada kewajiban harus membangun kalau ujungnya mudharat. Kita wajib membangun untuk kebaikan,” kata Meutya.
Ia mengatakan konektivitas digital yang diarahkan untuk pertumbuhan diharapkan dapat memenuhi hak masyarakat atas informasi sekaligus menciptakan ekosistem digital yang menjunjung persatuan.
Meutya kemudian mengajak seluruh talenta di Kementerian Komdigi memaknai pembangunan digital melalui tiga prinsip utama, yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga.
“Dari terhubung harus ada tumbuh. Kemudian memastikan bahwa dampaknya positif. Jadi terhubung, tumbuh, terjaga,” tuturnya.
Empat Sifat Rasulullah Menjadi Pedoman dalam Bekerja
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Meutya juga mengajak jajaran Kementerian Komdigi menjadikan empat sifat utama Rasulullah sebagai pedoman dalam menjalankan tugas.
“Yakni siddiq jujur, amanah dipercaya, tabligh menyampaikan ajaran, fathanah cerdas. Tidak usah terlalu banyak menghafal. Kerja harus cerdas, kerja harus jujur, kerja harus amanah, kerja harus menyampaikan ajaran,” tandasnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan



