
Pantau - Lebih dari 20 pejabat desa asal Indonesia mempelajari pengolahan dan budi daya kopi di Perkebunan Kopi Puteng, Desa Chengganhe, Puwen, Kota Jinghong, Provinsi Yunnan, China, sekaligus menjajaki peluang kerja sama pemasaran kopi Indonesia ke pasar China.
Kunjungan pada Sabtu (12/9/2026) tersebut mencakup pengamatan proses pengolahan kopi, diskusi teknik budi daya, pencicipan produk, hingga pembahasan potensi kerja sama industri pedesaan kedua negara.
Kepala Desa Hutagodang, Sumatera Utara, Adamal Tampubolon mengikuti kunjungan tersebut untuk mempelajari cara petani dan industri di Yunnan meningkatkan nilai tambah biji kopi.
"Desa kami terdampak parah oleh banjir di Sumatera tahun lalu, dan rumah-rumah kami mengalami kerusakan berat. Saat ini, kami sedang membangun kembali," ujar Adamal Tampubolon.
Meski banjir mengganggu kehidupan warga, tanaman kopi di perbukitan desanya tetap bertahan sehingga pengembangan komoditas tersebut diharapkan dapat membantu pemulihan ekonomi masyarakat.
Indonesia Pelajari Pengolahan dan Pemasaran Kopi
Perkebunan Kopi Puteng memperlihatkan rantai produksi mulai dari pengolahan buah kopi segar, penyangraian, hingga pembuatan espreso, kopi instan berperisa, dan minuman beralkohol rasa kopi.
Fasilitas tersebut juga menerapkan prosedur produksi terstandardisasi dan sistem daur ulang air tertutup dengan mengolah kembali air limbah.
"Kami juga sangat tertarik pada pengolahan washed coffee, pengolahan air limbah, dan pembangunan berkelanjutan. Ini merupakan pengalaman yang layak dibawa pulang," kata Kepala Badan Pengembangan dan Informasi (BPI) Desa dan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Mulyadin Malik.
Malik menilai Indonesia memiliki beragam jenis kopi berkualitas, tetapi sebagian produk dari desa masih menghadapi tantangan dalam aspek kemasan dan pemasaran.
"Indonesia memiliki banyak jenis kopi yang berbeda, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Kopi luwak, misalnya, merupakan produk yang khas, dan kopi yang diproduksi di desa-desa dapat memiliki kualitas yang sangat baik. Namun, kemasannya tidak cukup menarik, sehingga sulit menjualnya dengan harga yang baik," kata Malik.
Kunjungan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman mengenai pengembangan kemasan, merek, dan pemasaran agar kopi produksi desa memperoleh nilai jual lebih tinggi.
Kopi Indonesia Dijajaki Masuk Pasar China
Manajer Umum Puteng Trading Co., Ltd. Daodelong dan Adamal mencapai kesepakatan awal untuk membawa biji kopi Indonesia ke pasar China dan melakukan pengolahan lebih lanjut di Yunnan.
Daodelong sebelumnya pernah mengunjungi Indonesia dan mempelajari industri kopi serta kualitas biji kopi yang dihasilkan petani Indonesia.
"Ke depannya, akan ada produk kopi yang memadukan cita rasa Indonesia dan China," ujar Daodelong.
Puteng Trading saat ini mengimpor sejumlah biji kopi dari luar negeri sekaligus membeli hasil produksi petani di desa sekitar untuk diolah.
Perusahaan tersebut berharap dapat membawa lebih banyak biji kopi berkualitas tinggi asal Indonesia ke pasar China.
"Jika petani berproduksi secara terpisah, akan sulit untuk menjaga stabilitas harga atau membangun merek yang kuat," kata Tampubolon.
Adamal berharap setelah kembali ke Indonesia dapat mendorong petani kopi bekerja sama melalui organisasi tingkat desa untuk memperkuat daya tawar sekaligus membangun merek sendiri.
Yunnan Kembangkan Rantai Industri Kopi Terpadu
Yunnan merupakan provinsi penghasil kopi terbesar di China dengan rantai industri yang mencakup pembibitan, budi daya, pengolahan, hingga penjualan.
Puwen di bagian utara Kota Jinghong memiliki kondisi iklim yang mendukung budi daya kopi arabika dan dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan perkebunan, pengolahan, pemasaran, pariwisata, serta budaya kopi secara terpadu.
Data setempat mencatat Puwen memiliki perkebunan kopi seluas 34.790 mu atau sekitar 2.319 hektare dengan produksi sekitar 26.500 ton buah kopi segar setiap tahun.
Total nilai produksi kopi di kawasan tersebut mencapai sekitar 480 juta yuan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




