
Pantau - Psikolog anak, remaja, dan keluarga Jeffrey Bernstein, Ph.D mengungkap tiga pola pengasuhan yang dapat mengikis kepercayaan diri anak, mulai dari terlalu cepat menyelesaikan masalah hingga menjadikan koreksi sebagai pesan utama dalam komunikasi.
Bernstein dalam artikel yang dipublikasikan Psychology Today, Kamis (1/10/2026), mengatakan orang tua umumnya memberikan nasihat dan dorongan agar anak mampu menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.
Namun, cara memberikan bantuan maupun nasihat tertentu dapat mengurangi kesempatan anak membangun keyakinan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Terlalu Cepat Menyelesaikan Masalah Anak
Pola pertama adalah kebiasaan orang tua segera turun tangan menyelesaikan masalah sebelum anak mendapatkan kesempatan mencoba mengatasinya sendiri.
Bernstein mengatakan intervensi orang tua terkadang diperlukan, tetapi kebiasaan terus-menerus "menyelamatkan" anak dapat menghilangkan kesempatan mereka belajar menghadapi dan mengatasi kesulitan.
Pengalaman menghadapi persoalan secara mandiri dapat membantu anak membangun kepercayaan diri sekaligus mendorong mereka untuk terus berusaha.
Orang tua disarankan memberikan dukungan tanpa langsung mengambil alih masalah dengan membantu anak menentukan langkah pertama, mempertimbangkan sejumlah pilihan, dan memberikan kesempatan belajar melalui proses mencoba.
Menganggap Enteng Perasaan Anak
Pola kedua adalah penggunaan perkataan yang membuat anak merasa bahwa emosi atau perasaannya dianggap tidak penting.
Menurut Bernstein, ucapan seperti "kamu terlalu sensitif" atau "tidak ada yang perlu dikhawatirkan" mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi dapat membuat anak meragukan perasaannya sendiri.
Orang tua dapat memilih menunjukkan empati terhadap kecemasan anak tanpa harus menganggap setiap situasi sebagai sesuatu yang berbahaya.
Anak juga dapat diberikan ruang untuk memahami situasi yang dihadapi, menentukan langkah selanjutnya, dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.
Terlalu Banyak Koreksi Bisa Membuat Anak Tertekan
Pola ketiga adalah menjadikan perbaikan atau koreksi sebagai pesan utama dalam komunikasi dengan anak.
Bernstein mengatakan koreksi yang terus disertai pesan bahwa orang tua hanya ingin anak "berusaha sebaik mungkin" dapat membuat anak merasa selalu diamati dan dinilai.
Pujian yang kemudian diikuti kata "tetapi" juga dapat membuat perhatian anak beralih dari pencapaiannya kepada sesuatu yang dianggap masih kurang.
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian anak memaksakan diri mengejar kesempurnaan, sedangkan anak lainnya dapat kehilangan keinginan belajar dan memilih menutup diri.
Bernstein menekankan anak dari berbagai usia tetap membutuhkan bimbingan dan batasan untuk membantu mereka mengambil keputusan yang tepat.
Pada saat bersamaan, anak membutuhkan ruang untuk menghadapi tantangan, memahami perasaannya, dan belajar tanpa merasa nilai dirinya terus-menerus dihakimi.
- Penulis :
- Aditya Yohan




