
Pantau - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mempromosikan enam desa wisata unggulan kepada sekolah-sekolah di Indonesia sebagai destinasi wisata edukasi atau edutrip yang menggabungkan kegiatan pembelajaran dengan pengalaman langsung mengenal budaya, alam, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Promosi tersebut dilakukan melalui ajang 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026 yang berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 di SIS North East Jakarta.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan program tersebut bertujuan mempertemukan kebutuhan kurikulum sekolah dengan produk wisata edukasi yang ditawarkan pengelola desa wisata.
"Melalui promosi dan pemasaran langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah, kami berharap tercipta keterhubungan antara kebutuhan kurikulum sekolah dan produk wisata edukasi yang ditawarkan desa wisata," kata Made dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Enam Desa Wisata Dipromosikan sebagai Destinasi Edukasi
Kementerian Pariwisata memilih enam desa wisata dari sejumlah daerah untuk diperkenalkan kepada institusi pendidikan.
Keenam desa wisata tersebut adalah:
- Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.
- Desa Wisata Krebet, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Desa Wisata Les, Kabupaten Buleleng, Bali.
- Desa Wisata Sudaji, Kabupaten Buleleng, Bali.
- Desa Wisata Bugisan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
- Desa Wisata Selamanik, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Pengenalan keenam destinasi tersebut bertujuan menunjukkan bahwa desa wisata tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi pelajar.
Melalui kunjungan langsung, siswa diharapkan dapat memahami budaya lokal, kondisi lingkungan, aktivitas ekonomi, serta kehidupan masyarakat desa.
Paket Wisata Edukasi Disesuaikan dengan Kurikulum Sekolah
Made menilai kesesuaian antara potensi desa wisata dan kebutuhan kurikulum menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing wisata edukasi.
Kementerian Pariwisata telah menjalankan sejumlah program pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kesiapan desa wisata menerima kunjungan rombongan pelajar.
Salah satu fokus pengembangan adalah penyusunan paket pembelajaran berbasis pengalaman yang dapat dihubungkan dengan mata pelajaran di sekolah.
Bidang pembelajaran yang dapat dikembangkan melalui wisata edukasi meliputi:
- Sains melalui pengenalan lingkungan dan fenomena alam.
- Kebudayaan melalui interaksi dengan tradisi masyarakat.
- Ilmu sosial melalui pengamatan kehidupan masyarakat desa.
- Ekologi melalui pembelajaran tentang lingkungan.
- Kewirausahaan melalui pengenalan kegiatan ekonomi masyarakat.
Konsep tersebut memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar di luar kelas dengan memanfaatkan potensi desa wisata sebagai sumber pembelajaran.
Kemenpar Tekankan Keselamatan dan Transparansi Harga
Selain penguatan materi pembelajaran, Kementerian Pariwisata menekankan pentingnya pemenuhan standar keselamatan bagi pengunjung dari kalangan pelajar.
Pengelola desa wisata didorong menyiapkan prosedur keselamatan, manajemen risiko, dan langkah kesiapsiagaan yang sesuai dengan kebutuhan rombongan sekolah.
Kemenpar juga mendorong penerapan sistem transaksi yang transparan agar institusi pendidikan dapat merencanakan kegiatan wisata edukasi dengan lebih mudah.
Pengelola desa wisata diharapkan menyediakan penawaran harga khusus untuk rombongan sekolah serta pilihan pembayaran nontunai.
"Promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar utama dalam pengembangan wisata edukasi di desa wisata. Dengan demikian, desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi institusi pendidikan," ujar Made.
Lebih dari 460 Sekolah Berpotensi Jadi Mitra Desa Wisata
Promosi enam desa wisata tersebut dilakukan dalam konvensi tahunan yang diselenggarakan Perkumpulan Sekolah Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia.
Konvensi tahun ini mengusung tema Rooted in Heritage, Empowered by Humanity, Driven by Leadership dan berlangsung di SIS North East Jakarta.
Saat ini, lebih dari 460 sekolah di Indonesia tercatat tergabung dalam Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia.
Jumlah tersebut membuka peluang bagi pengelola desa wisata untuk menjalin kemitraan dengan institusi pendidikan dalam penyelenggaraan perjalanan wisata edukasi.
Made berharap kunjungan pelajar dapat memperluas pemanfaatan desa wisata sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat setempat.
"Langkah ini sekaligus mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) serta memacu pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari segmen pelajar," kata Made.
Kementerian Pariwisata menargetkan pengembangan wisata edukasi tersebut dapat memperkuat posisi desa wisata sebagai mitra pembelajaran sekolah sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf




