
Pantau - Terapi hutan atau forest therapy mulai berkembang sebagai salah satu pilihan kegiatan kebugaran di Indonesia untuk membantu mengurangi stres, meningkatkan kesadaran diri, dan mendukung kesehatan mental melalui interaksi langsung dengan alam.
Praktik yang berasal dari konsep shinrin-yoku atau mandi hutan di Jepang tersebut mengajak peserta memperlambat aktivitas, menikmati suasana alam, serta melatih kesadaran penuh atau mindfulness.
Kegiatan ini menjadi perhatian bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada Sabtu (10/10/2026), ketika persoalan stres dan kelelahan mental semakin relevan bagi masyarakat.
Guru Besar IPB University Prof. Siti Badriyah Rushayati menjelaskan bahwa paparan lingkungan hutan memiliki sejumlah potensi manfaat bagi kesehatan fisik dan psikologis.
Sementara itu, praktisi sekaligus dosen psikologi Universitas Gunadarma Dr. Hendro Prabowo menekankan pentingnya aktivitas ringan dan keterlibatan seluruh pancaindra dalam pelaksanaan terapi hutan.
Terapi Hutan Berasal dari Jepang dan Mengutamakan Kesadaran Penuh
Terapi hutan berakar dari praktik shinrin-yoku yang mulai dikembangkan di Jepang sejak 1980-an sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), mandi hutan kini menjadi salah satu bagian dari layanan kesehatan preventif di negara tersebut.
Sejumlah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa aktivitas di lingkungan hutan berpotensi membantu memperbaiki kualitas tidur, suasana hati, kemampuan berkonsentrasi, serta menurunkan tingkat stres.
Berbeda dengan kegiatan mendaki gunung yang menuntut tenaga fisik lebih besar, terapi hutan dilakukan melalui aktivitas sederhana dengan ritme perlahan.
Peserta diajak untuk berdiam diri, berjalan santai, mendengarkan suara alam, menghirup aroma dedaunan, serta merasakan tekstur berbagai objek alami.
Sebagian kegiatan juga dilakukan dengan berjalan tanpa alas kaki atau berbaring di atas rumput sesuai kondisi dan keamanan lokasi.
Tujuan utamanya adalah membantu peserta memusatkan perhatian pada pengalaman yang sedang berlangsung.
Peserta Terapi Hutan di Bogor Mengaku Sulit Berdiam Diri
Wira, seorang ibu rumah tangga sekaligus wirausaha berusia 33 tahun, membagikan pengalamannya mengikuti terapi hutan di Kebun Raya Bogor pada Agustus 2026.
Ia mengaku bahwa berdiam diri justru menjadi salah satu bagian paling menantang selama mengikuti kegiatan tersebut.
"Awalnya ada sedikit rasa tidak terbiasa, karena saya selalu hidup dalam ritme cepat yang membuat diam terasa seperti tidak melakukan apa pun," ujar Wira saat diwawancarai Xinhua.
Menurutnya, kebiasaan menjalani aktivitas dengan cepat membuat dirinya sulit melepaskan dorongan untuk terus berpikir dan melakukan sesuatu.
"Tantangan terbesar adalah melepaskan kebutuhan untuk selalu berpikir dan melakukan sesuatu," ungkapnya.
Wira menjelaskan bahwa pengalaman tersebut membantunya memahami pentingnya menerima keadaan tanpa harus terus-menerus mencari jawaban.
"Saya terbiasa memikirkan banyak kemungkinan dan mempersiapkan banyak hal. Dalam kegiatan seperti ini, saya belajar tidak semua hal perlu dianalisis. Ada kalanya kita cukup hadir, merasakan, dan membiarkan sesuatu berlangsung tanpa harus segera mencari makna atau solusinya," ujar ibu yang memiliki seorang anak usia prasekolah itu.
Pakar IPB Jelaskan Peran Fitonsida dalam Terapi Hutan
Dari sisi ilmiah, manfaat terapi hutan antara lain dikaitkan dengan keberadaan fitonsida, yaitu senyawa alami yang dilepaskan tumbuhan ke udara.
Senyawa tersebut merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tumbuhan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan.
Prof. Siti Badriyah Rushayati dalam orasi ilmiahnya pada 27 Juni 2026 menjelaskan bahwa paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami atau natural killer cells.
Sel tersebut berperan dalam sistem kekebalan tubuh, termasuk melawan infeksi dan mengenali sel yang mengalami perubahan abnormal.
Menurut Siti, paparan fitonsida secara teratur juga berpotensi membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental.
Meski demikian, terapi hutan merupakan pendekatan pendukung kesehatan dan bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis yang diperlukan.
Psikolog Tekankan Pentingnya Mindfulness untuk Mengurangi Stres
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Luh Surini Yulia Savitri menjelaskan bahwa mindfulness merupakan kesadaran untuk hadir pada keadaan saat ini.
Dalam artikel yang diterbitkan pada 28 Maret 2024, ia menggambarkan konsep tersebut sebagai kemampuan individu untuk berada "di sini dan saat ini".
Ia juga merujuk pada pemikiran profesor asal Amerika Serikat Jon Kabat-Zinn yang menjelaskan mindfulness sebagai kesadaran terhadap pengalaman dari waktu ke waktu tanpa menghakimi pikiran dan perasaan.
Prinsip tersebut menjadi salah satu dasar kegiatan terapi hutan yang mengajak peserta memperhatikan lingkungan dan kondisi dirinya.
Hendro Prabowo mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan terapi hutan adalah membantu peserta yang memiliki kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking.
Menurutnya, kebiasaan menganalisis berbagai hal secara terus-menerus dapat menyulitkan peserta untuk menikmati pengalaman berada di alam.
Untuk membantu peserta mengevaluasi perubahan yang dirasakan, Hendro menggunakan metode pain drawing atau penggambaran lokasi nyeri.
Dalam metode tersebut, peserta diminta menandai bagian tubuh yang terasa sakit pada gambar anatomi manusia dan memberikan penilaian terhadap tingkat nyerinya.
Setelah sesi terapi selesai, peserta kembali melakukan penilaian untuk membandingkan keluhan fisik sebelum dan sesudah kegiatan.
Terapi Hutan Dianjurkan Berlangsung di Lingkungan Tenang
Hendro menjelaskan bahwa terapi hutan sebaiknya dilaksanakan di lokasi yang memiliki medan relatif datar dan memungkinkan peserta melakukan aktivitas fisik ringan.
Lingkungan dengan udara sejuk, pepohonan rindang, dan tingkat kebisingan rendah dinilai lebih sesuai untuk mendukung kegiatan relaksasi.
Keberadaan aliran sungai yang aman juga dapat menjadi bagian dari pengalaman berinteraksi dengan alam.
Prof. Siti menegaskan bahwa kondisi lingkungan memiliki pengaruh terhadap keberhasilan proses relaksasi.
"Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi pun tidak akan berjalan optimal," ujarnya, sebagaimana dikutip dari situs resmi IPB University.
Hendro juga menyampaikan pandangannya mengenai manfaat berjalan perlahan tanpa alas kaki terhadap peredaran darah dan pengurangan stres.
Ia mengaitkan kontak langsung dengan tanah dengan konsep aliran elektron dari permukaan bumi, meskipun manfaat kesehatan khusus dari mekanisme tersebut masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.
Kesehatan Mental Anak Juga Jadi Perhatian
Pentingnya upaya menjaga kesehatan mental turut terlihat dari hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan periode 2025–2026.
Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak terdeteksi mengalami gangguan kecemasan.
Selain itu, sekitar 4,8 persen atau 363.000 anak menunjukkan gejala depresi berdasarkan hasil skrining.
Temuan tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental sejak usia anak-anak.
Hendro berharap edukasi mengenai terapi hutan dapat diperluas agar lebih banyak kelompok masyarakat mengenal kegiatan tersebut.
Kelompok yang dinilai berpotensi memperoleh manfaat dari kegiatan ini meliputi lansia, pekerja yang menghadapi tekanan hidup, serta remaja yang mengalami masalah penggunaan gawai secara berlebihan.
Ia juga mendorong peningkatan jumlah pemandu terlatih untuk memperluas akses masyarakat terhadap terapi hutan.
Terapi Hutan Diharapkan Dorong Kepedulian terhadap Lingkungan
Selain berkaitan dengan kesehatan, kegiatan terapi hutan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Hendro menilai pengalaman berinteraksi langsung dengan alam dapat membantu masyarakat memahami hubungan antara kondisi ekosistem dan kualitas hidup.
Kesadaran tersebut diharapkan mendorong dukungan terhadap pelestarian hutan serta pengembangan ruang hijau yang lebih sehat di kawasan perkotaan.
Bagi Wira, pengalaman mengikuti terapi hutan memberikan pemahaman baru mengenai cara menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
"Setelah mengikuti terapi ini, saya menyadari bahwa ketenangan bukan berarti hidup sedang tidak memiliki masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap hadir dan tidak kehilangan diri sendiri di tengah berbagai hal yang sedang terjadi," ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




