HOME  ⁄  Lifestyle

Tiga Pengusaha Perempuan Indonesia Tembus Final Kompetisi Bisnis Sosial Dunia, Bersaing Raih Hibah Rp1,8 Miliar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tiga Pengusaha Perempuan Indonesia Tembus Final Kompetisi Bisnis Sosial Dunia, Bersaing Raih Hibah Rp1,8 Miliar
Foto: (Sumber :Kedua belas finalis "The Unlock Her Future 2026" dalam konferensi pers di "Suzhou Village", provinsi Jiangsu, Kamis (22/10/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia..)

Pantau - Tiga pengusaha perempuan Indonesia berhasil menembus babak final kompetisi kewirausahaan sosial internasional Unlock Her Future Prize 2026 yang diselenggarakan The Bicester Collection di Suzhou, Provinsi Jiangsu, China, setelah melalui seleksi dari sekitar 1.500 pendaftar.

Ketiga finalis tersebut adalah Azalea Ayuningtyas melalui Birufinery, Celia Siura melalui Bumbi, serta Jihan Alfiyyah melalui HerLens.

Mereka mengembangkan inovasi di bidang pertanian berkelanjutan, pengurangan sampah popok dan pembalut sekali pakai, serta deteksi dini kanker serviks berbasis kecerdasan buatan (AI).

Kompetisi tersebut menghadirkan 12 finalis dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara yang berkesempatan memperoleh hibah pendanaan hingga 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,8 miliar.

Chief Culture Officer The Bicester Collection, Chantal Khoueiry, menyampaikan apresiasi terhadap inovasi sosial yang dikembangkan para finalis dalam konferensi pers di Suzhou, Kamis (22/10/2026).

"Kedua belas finalis ini merupakan inspirasi bagi generasi berikutnya. Mereka masing-masing menciptakan dampak yang luar biasa bagi perempuan, anak-anak, dan generasi mendatang di komunitas mereka. Hal ini sejalan dengan misi kami di The Bicester Collection, yang memiliki 12 destinasi belanja dengan tujuan menjadikan kehidupan orang lain lebih baik," kata Chantal.

Birufinery Olah Rumput Laut Menjadi Biostimulan Pertanian

Salah satu finalis asal Indonesia, Azalea Ayuningtyas, mengembangkan perusahaan rintisan Birufinery yang memanfaatkan rumput laut sebagai bahan baku biostimulan pertanian.

Birufinery didirikan pada 2024 dan beroperasi di Flores serta Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang bioteknologi pertanian dengan fokus pada pengembangan solusi biologis untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

"Melalui penelitian yang kami lakukan, kami menemukan bahwa rumput laut dapat diolah menjadi biostimulan pertanian. Dengan demikian, rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat pesisir Indonesia dapat dimanfaatkan untuk membantu para petani di dalam negeri," kata CEO Birufinery, Azalea Ayuningtyas.

Azalea menjelaskan bahwa biostimulan berfungsi membantu tanaman memanfaatkan nutrisi secara lebih optimal.

"Biostimulan itu diibaratkan seperti vitamin, sedangkan pupuk adalah makanannya. Jadi, jika anak sedang susah makan, kita berikan vitamin terlebih dahulu agar nafsu makan meningkat dan nutrisinya dapat dicerna dengan baik. Kira-kira seperti itulah fungsi biostimulan," ungkap Azalea dalam wawancara khusus dengan ANTARA Beijing.

Melalui inovasi tersebut, Birufinery berupaya menghubungkan potensi budidaya rumput laut masyarakat pesisir dengan kebutuhan sektor pertanian nasional.

Bumbi Kembangkan Popok dan Pembalut Kain untuk Kurangi Sampah Plastik

Finalis kedua asal Indonesia, Celia Siura, mengembangkan Bumbi sebagai usaha yang menawarkan alternatif produk popok dan pembalut sekali pakai.

Pendiri sekaligus CEO Bumbi tersebut menyoroti persoalan sampah plastik yang berasal dari penggunaan produk kebersihan sekali pakai.

Menurut Celia, terdapat sekitar 14 juta bayi di Indonesia yang membutuhkan popok serta 74 juta perempuan yang membutuhkan pembalut.

Bumbi menawarkan produk berbahan kain yang dapat digunakan kembali dengan desain dan bahan yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pengguna.

"Kami ingin kembali ke kebiasaan masa lalu yang menjadi bagian dari budaya kita, yaitu menggunakan popok kain. Namun, kami merancangnya dengan desain yang menarik dan bahan yang lembut agar masyarakat bersedia beralih," kata Celia.

Selain memproduksi popok dan pembalut kain, Bumbi mengembangkan mesin cuci portabel untuk membantu pengguna menghemat waktu dan biaya perawatan produk.

Perusahaan tersebut juga melibatkan perempuan lokal dan penyandang disabilitas dalam proses produksinya.

"Yang tidak kalah penting, produk kami diproduksi langsung oleh perempuan lokal dan penyandang disabilitas, bukan di pabrik skala besar. Kami menyadari bahwa keluarga berpenghasilan rendah kerap menjadi kelompok yang membuang popok sekali pakai ke aliran sungai," tegas Celia.

Melalui pendekatan tersebut, Bumbi berupaya menggabungkan pengurangan limbah dengan pemberdayaan kelompok masyarakat dalam kegiatan produksi.

HerLens Kembangkan Alat Deteksi Kanker Serviks Berbasis AI

Finalis ketiga dari Indonesia adalah Jihan Alfiyyah yang mengembangkan HerLens bersama tim mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Indonesia.

Perusahaan rintisan yang berdiri pada 2024 tersebut berfokus pada pengembangan perangkat portabel untuk pemeriksaan awal kanker serviks.

Teknologi yang dikembangkan memanfaatkan kecerdasan buatan agar pemeriksaan dapat dilakukan oleh dokter umum dan bidan, terutama di wilayah perdesaan.

"Kami menemukan masih banyak kesenjangan dalam akses pemeriksaan kanker serviks bagi perempuan di Indonesia. Oleh karena itu, kami mengembangkan perangkat portabel pemeriksaan kanker serviks berbasis AI yang dapat digunakan oleh dokter umum dan bidan agar pemeriksaan menjadi lebih terjangkau, mudah diakses, dan merata," jelas Jihan.

Jihan mengatakan HerLens masih menjalani berbagai uji klinis sehingga perangkat tersebut belum berada pada tahap pengembangan akhir.

Selain mengembangkan teknologi, HerLens berupaya meningkatkan kesadaran perempuan mengenai pentingnya pemeriksaan kanker serviks.

"Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kanker serviks. Oleh sebab itu, yang sedang kami bangun bukan hanya sekadar produk, melainkan juga gerakan untuk meningkatkan kesadaran perempuan mengenai kesehatan serviks," ujarnya.

Sebanyak 12 Finalis Terpilih dari Sekitar 1.500 Pendaftar

Kompetisi Unlock Her Future Prize 2026 diikuti sekitar 1.500 pendaftar sebelum akhirnya menetapkan 12 finalis.

Tiga finalis asal Indonesia berhasil lolos bersama sembilan pengusaha perempuan lainnya dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan filantropi The Bicester Collection yang diluncurkan pada 2022.

Kompetisi ini ditujukan bagi perempuan wirausaha sosial yang mengembangkan solusi berkelanjutan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa.

The Bicester Collection merupakan perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang ritel mewah dan pariwisata belanja.

Perusahaan yang berdiri pada 1995 tersebut mengelola 12 destinasi wisata belanja terbuka di berbagai kota dunia, termasuk London, Paris, Milan, Shanghai, Suzhou, dan New York.

Menurut penyelenggara, destinasi-destinasi tersebut dikunjungi lebih dari 50 juta orang setiap tahun.

Pemenang Berpeluang Raih Hibah Rp1,8 Miliar dan Jaringan Bisnis Global

Pemenang Unlock Her Future Prize 2026 berkesempatan memperoleh hibah pendanaan hingga 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,8 miliar.

Selain bantuan dana, pemenang akan mendapatkan pendampingan profesional, pelatihan kepemimpinan, dan akses pendidikan.

Program tersebut juga menyediakan akses jaringan bisnis internasional serta kesempatan memperoleh publikasi media.

Pada edisi keempat tahun 2026, kompetisi difokuskan kepada perempuan wirausaha sosial dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Sebelumnya, kompetisi diselenggarakan untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada 2022–2023, Amerika Latin pada 2023–2024, serta Asia Selatan pada 2024–2025.

Pengumuman Pemenang Dijadwalkan pada 23 Oktober 2026

Rangkaian seleksi Unlock Her Future Prize 2026 dimulai dengan pendaftaran pada 28 Februari hingga 30 April 2026.

Proses evaluasi dilaksanakan oleh Ashoka pada Mei, kemudian dilanjutkan seleksi oleh komite pada Juni.

Para semifinalis mengikuti presentasi secara daring pada Juli sebelum 12 finalis diumumkan pada September 2026.

Pada Oktober, seluruh finalis mengikuti pelatihan intensif bersama New York University Shanghai atau NYU Shanghai.

Mereka juga mempresentasikan usaha masing-masing di hadapan dewan juri sebagai bagian dari tahap akhir kompetisi.

Upacara penganugerahan dan pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung di Suzhou pada Jumat (23/10/2026).

Keikutsertaan Birufinery, Bumbi, dan HerLens membuka peluang bagi tiga pengusaha perempuan Indonesia untuk memperoleh dukungan pendanaan dan memperluas pengembangan usaha sosial mereka.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026