
Pantau - Dokter spesialis anak dr. Marlina Tanjung, Sp.A, Subsp. Neo (K), mengingatkan orang tua untuk memperhatikan kualitas dan kebersihan air minum yang dikonsumsi anak karena kontaminasi mikroorganisme maupun logam berat dapat berdampak pada kesehatan dan proses tumbuh kembang.
Dokter lulusan Universitas Sumatera Utara yang kini bekerja di Rumah Sakit Mayapada itu menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan cairan anak tidak cukup hanya memperhatikan jumlah air yang diminum, tetapi juga harus memastikan air tersebut aman dan higienis.
“Kualitas dan higienitas air minum menjadi penting karena kontaminasi mikrobiologis dan logam berat yang tidak terlihat pada air dapat berdampak pada kesehatan keluarga terutama anak-anak baik dalam jangka pendek ataupun panjang,” kata Marlina dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Menurut Marlina, air minum yang tidak terjaga kebersihannya dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan yang berpotensi menghambat penyerapan nutrisi pada anak.
Air Minum Tidak Higienis Bisa Mengganggu Penyerapan Nutrisi Anak
Marlina menjelaskan bahwa kualitas air minum merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan anak.
Air yang terlihat jernih belum tentu terbebas dari kontaminasi mikrobiologis maupun kandungan logam berat yang tidak dapat dikenali hanya melalui pengamatan langsung.
Karena itu, orang tua perlu memastikan air yang dikonsumsi anak memenuhi aspek kebersihan dan keamanan.
Menurutnya, gangguan pencernaan akibat air minum yang tidak higienis dapat memengaruhi kemampuan tubuh anak dalam memperoleh nutrisi yang dibutuhkan.
“Air minum yang tidak terjaga higienitasnya dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, yang pada anak dapat mengganggu asupan dan penyerapan nutrisi serta berdampak pada proses tumbuh kembang,” ujarnya yang kini bekerja di Rumah Sakit Mayapada itu.
Marlina menekankan bahwa hidrasi yang baik harus didukung oleh kualitas air minum yang terjaga.
Penelitian Soroti Kaitan Air Minum Aman dengan Risiko Stunting
Pentingnya kualitas air minum juga dibahas dalam jurnal ilmiah berjudul Safe Drinking Water and Its Impact on Children’s Growth and Development: A Systematic Review yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health.
Kajian tersebut membahas hubungan antara akses terhadap air minum yang aman, kesehatan pencernaan, dan pertumbuhan anak.
Gangguan kesehatan pencernaan disebut dapat memengaruhi asupan serta penyerapan nutrisi yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang.
Dalam kajian yang dikutip tersebut, risiko stunting dilaporkan berpotensi meningkat hingga 4,14 kali lebih tinggi dalam kondisi yang diteliti.
Temuan itu menjadi salah satu dasar pentingnya memperhatikan kualitas air minum sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan pertumbuhan anak.
Kualitas Air Minum Tidak Bisa Dinilai Hanya dari Kejernihan
Sementara itu, praktisi bidang penelitian dan inovasi ilmu gizi serta hidrasi AQUA, dr. Tria Rosemiarti, Dipl in Nutrition, MKK, mengatakan kualitas air minum dipengaruhi berbagai faktor.
Faktor tersebut meliputi sumber air, proses produksi, kebersihan kemasan, pengujian kualitas, penyimpanan, hingga perlindungan produk sebelum dikonsumsi.
Menurut Tria, masyarakat kerap menggunakan kejernihan sebagai ukuran utama untuk menentukan apakah air layak diminum.
Padahal, penilaian kualitas air membutuhkan perhatian terhadap aspek lain yang tidak selalu dapat dilihat secara langsung.
“Kita sering kali melihat air hanya dari kejernihannya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk memastikan kualitas air minum,” kata Tria.
Ia menilai keluarga perlu memahami asal air, proses pengolahan, serta cara produsen menjaga kebersihan produk sebelum sampai kepada konsumen.
Informasi tersebut diperlukan agar masyarakat dapat lebih cermat dalam memilih air minum untuk kebutuhan keluarga.
Orang Tua Diminta Periksa Label, Izin Edar, dan Tutup Kemasan
Tria menyarankan masyarakat untuk memperhatikan identitas produk sebelum membeli atau mengonsumsi air minum dalam kemasan.
Pemeriksaan tersebut meliputi merek, nama produsen, label produk, izin edar, serta kondisi tutup kemasan.
“Untuk itu penting bagi keluarga mulai memperhatikan dan memeriksa keberadaan identitas merek dan produsen, label, izin edar, serta tutupnya,” kata Tria.
Menurutnya, keterlacakan produk menjadi aspek penting karena berkaitan dengan kejelasan asal dan pihak yang bertanggung jawab terhadap air minum.
Produk yang tidak memiliki identitas merek maupun produsen yang jelas dapat menyulitkan konsumen memperoleh informasi mengenai sumber air dan proses pengolahannya.
Hal serupa berlaku terhadap informasi mengenai proses pencucian, standar sanitasi, serta pengujian kualitas produk.
Karena itu, konsumen perlu memastikan bahwa informasi produk tersedia dan dapat diperiksa sebelum air dikonsumsi.
Galon Bermerek Bisa Digunakan Ulang, Konsumen Perlu Cek Identitas Produk
Tria juga menyoroti penggunaan kembali badan galon bermerek dalam praktik distribusi air minum.
Menurutnya, identitas merek yang tercetak pada badan galon belum tentu menunjukkan asal air yang berada di dalam kemasan tersebut.
Kondisi itu membuat pemeriksaan badan galon saja tidak cukup untuk memastikan identitas produk.
Konsumen disarankan memeriksa seluruh bagian kemasan, termasuk tutup dan informasi yang menunjukkan asal produk.
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan tampilan luar kemasan ketika memilih air minum.
Dengan memperhatikan kualitas air, kebersihan kemasan, dan kejelasan identitas produk, keluarga diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan akibat konsumsi air minum yang tidak higienis.
- Penulis :
- Aditya Yohan




