
Pantau - Hubungan persahabatan yang merenggang atau terputus masih berpeluang dipulihkan melalui komunikasi yang tulus, pengakuan atas kesalahan, serta kemampuan mengelola harapan tanpa memaksakan hubungan kembali seperti semula.
Konselor kesehatan mental sekaligus psikoterapis Daryl Appleton mengatakan sebagian besar persahabatan terbentuk karena adanya rutinitas dan aktivitas bersama.
Menurutnya, perubahan lingkungan atau berakhirnya rutinitas dapat memengaruhi kedekatan seseorang dengan teman-temannya.
"Ketika rutinitas berakhir, kita jadi tahu seberapa besar persahabatan itu bergantung pada lingkungan sekitar, dan seberapa besar yang memang murni didasari oleh hubungan antar-individu," kata Appleton sebagaimana dikutip dari Real Simple, Selasa (27/10/2026).
Terapis Cheryl Groskopf juga menjelaskan bahwa hubungan persahabatan berkembang melalui konsistensi, kedekatan, dan pengalaman bersama.
"Jadi, saat kita tidak lagi sering bertemu, kita kehilangan kesempatan alami untuk menjalin koneksi yang sebelumnya menjaga persahabatan itu tetap hidup," katanya.
Persahabatan Bisa Renggang karena Perubahan Rutinitas
Hubungan persahabatan tidak selalu berakhir akibat pertengkaran atau konflik besar.
Sejumlah persoalan kecil yang menumpuk seiring waktu juga dapat menyebabkan hubungan menjadi renggang.
Selain itu, perubahan pekerjaan, lingkungan, dan arah kehidupan dapat membuat seseorang semakin jarang berkomunikasi dengan teman lama.
Appleton menjelaskan bahwa hilangnya rutinitas bersama dapat memperlihatkan seberapa kuat hubungan persahabatan di luar lingkungan yang sebelumnya mempertemukan kedua pihak.
Meski demikian, hubungan yang telah merenggang masih memiliki peluang untuk dibangun kembali apabila kedua pihak bersedia membuka komunikasi.
Mulai Komunikasi dengan Pesan Singkat dan Personal
Appleton menyarankan agar seseorang memulai kembali hubungan dengan teman lama melalui pesan sederhana dan tulus.
Menurutnya, membuka komunikasi tidak harus diawali dengan penjelasan panjang mengenai alasan hubungan sempat terputus.
"Satu kalimat jujur tentang alasan Anda memikirkan mereka jauh lebih berarti daripada satu paragraf permintaan maaf," kata Appleton.
Ia menyebut komunikasi dapat dimulai dengan menanyakan kabar atau mengingat kembali pengalaman menyenangkan yang pernah dilalui bersama.
Groskopf juga menyarankan penggunaan pesan yang spesifik dan personal untuk menunjukkan ketulusan.
Pesan tersebut dapat berisi kenangan favorit, pengalaman bersama, atau lelucon khas yang hanya dipahami oleh kedua pihak.
Menurut Groskopf, seseorang tidak perlu menunggu menemukan alasan sempurna untuk kembali menghubungi teman lama.
Akui Kesalahan Tanpa Mengungkit Konflik Lama
Appleton mengatakan pihak yang lebih dahulu menjauh atau berhenti memberikan kabar sebaiknya mengakui tindakannya secara terbuka.
Pengakuan tersebut dapat dilakukan secara sederhana tanpa harus mendramatisasi keadaan.
Menurutnya, sikap bertanggung jawab dapat membantu seseorang keluar dari persoalan mengenai siapa yang seharusnya menghubungi atau meminta maaf terlebih dahulu.
Ia juga menyarankan agar komunikasi awal tidak langsung diarahkan untuk membahas kembali seluruh perselisihan yang pernah terjadi.
Selain itu, Appleton mengingatkan pentingnya menghindari sikap yang terlalu berfokus pada perasaan bersalah.
"Alih-alih berfokus pada betapa buruknya perasaan Anda karena kehilangan kontak, fokus pada fakta bahwa Anda memikirkan mereka," katanya.
Menurutnya, ungkapan rasa bersalah yang berlebihan dapat membuat pihak lain merasa harus memberikan penghiburan atau menenangkan orang yang menghubunginya.
Jangan Memaksakan Persahabatan Kembali Seperti Semula
Groskopf menekankan pentingnya mengelola harapan ketika berusaha menjalin kembali hubungan dengan teman lama.
Menurutnya, menghubungi seseorang merupakan langkah untuk membuka kembali komunikasi, bukan jaminan bahwa persahabatan akan pulih sepenuhnya.
Teman yang dihubungi mungkin merasa senang menerima kabar setelah sekian lama tidak berkomunikasi.
Namun, ada pula kemungkinan orang tersebut membutuhkan waktu untuk memberikan tanggapan atau memilih tidak melanjutkan hubungan.
"Anda bisa mengontrol seberapa hangat dan tulus ajakan Anda, tetapi Anda tidak bisa mengendalikan hasilnya," kata Groskopf.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang mengalami perubahan dan perkembangan kehidupan yang dapat memengaruhi hubungan persahabatan.
Karena itu, upaya memperbaiki persahabatan perlu dilakukan dengan menghormati keputusan dan batasan masing-masing pihak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf




