HOME  ⁄  Lifestyle

Kelelahan Mental akibat Tekanan Hidup Bisa Diatasi, Pakar Ungkap Cara Berdamai dengan Situasi dan Mencegah Burnout

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kelelahan Mental akibat Tekanan Hidup Bisa Diatasi, Pakar Ungkap Cara Berdamai dengan Situasi dan Mencegah Burnout
Foto: (Sumber :Ilustrasi - seorang wanita kelelahan. (freepik).)

Pantau - Tekanan pekerjaan, tenggat waktu yang menumpuk, hingga paparan berita negatif secara terus-menerus dapat memicu kelelahan mental dan emosional, sehingga penting bagi setiap individu memahami batas kemampuan diri serta menerapkan langkah untuk menjaga kesehatan mental.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang keluar dari zona psikologis yang dikenal sebagai window of tolerance atau ruang toleransi, yakni kondisi ketika individu mampu menghadapi tekanan dan mengelola emosi secara optimal.

Mengutip laporan Real Simple, Jumat (30/10/2026), konsep ruang toleransi pertama kali diperkenalkan oleh profesor klinis psikiatri di Fakultas Kedokteran UCLA, Dan Siegel, MD.

Konsep tersebut menggambarkan kondisi keseimbangan psikologis yang berada di antara hiperaktivasi (hyperarousal) yang dapat memicu kecemasan, stres, dan kepanikan, serta hipoaktivasi (hypoarousal) yang dapat berkaitan dengan gejala depresi dan disosiasi.

Wakil Presiden Perawatan Klinis Octave Mental Health, Golee Abrishami, PhD, menjelaskan bahwa memahami ruang toleransi dapat membantu seseorang mengenali kemampuan dirinya dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Kenali Tanda Kelelahan Mental dan Batas Kemampuan Diri

Abrishami menjelaskan bahwa ruang toleransi merupakan gambaran kondisi ideal ketika seseorang mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman tanpa mengalami tekanan emosional yang berlebihan.

“Ini adalah konsep yang membantu anda secara subyektif mengukur bagaimana perasaan anda dan apa yang paling mampu anda tangani," ujarnya.

Menurut Abrishami, setiap individu memiliki respons berbeda ketika menghadapi situasi yang melampaui batas toleransi psikologisnya.

Sebagian orang menunjukkan respons berupa menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan fokus, menurunnya produktivitas, hingga munculnya kekhawatiran secara terus-menerus.

Sementara itu, individu lainnya justru berusaha mengalihkan tekanan dengan menyibukkan diri melalui pekerjaan, hubungan sosial, pengaturan pola makan, pekerjaan rumah tangga, atau berbagai kegiatan lainnya.

Beberapa orang bahkan menjadi sangat fokus terhadap kebersihan, penataan barang, dan kebutuhan menciptakan keteraturan di lingkungan sekitarnya.

Abrishami menilai penting bagi seseorang untuk mengenali perubahan perilaku tersebut agar dapat mengambil langkah sebelum tekanan berkembang menjadi kelelahan mental yang lebih berat.

Batasi Paparan Berita Negatif dan Kebiasaan Menggulir Ponsel

Salah satu langkah menjaga kesehatan mental adalah membatasi konsumsi informasi berlebihan, terutama berita negatif yang terus bermunculan melalui media sosial maupun perangkat digital.

Abrishami mengingatkan bahwa kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti dapat meningkatkan beban pikiran karena otak harus memproses terlalu banyak informasi dalam waktu bersamaan.

“Otak manusia tidak dirancang untuk menerima semua berita di dunia 24/7, dan menempatkan diri kita dalam posisi itu dapat membahayakan kesejahteraan kita," kata dia.

Selain mengurangi paparan informasi, seseorang juga dianjurkan mempertahankan gaya hidup sehat untuk membantu menjaga kestabilan kondisi fisik dan emosional.

Memahami batas kemampuan tubuh menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan, terutama ketika aktivitas sehari-hari mulai memicu gejala stres berkepanjangan.

Abrishami menyarankan individu yang mengalami keluhan seperti sesak napas, kekhawatiran terus-menerus, atau ketakutan berkepanjangan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis maupun ahli kesehatan mental.

Ia juga menjelaskan bahwa perubahan hormon selama siklus menstruasi, perimenopause, maupun menopause dapat berkontribusi terhadap munculnya stres pada sebagian perempuan.

Istirahat dan Olahraga Bantu Mencegah Kelelahan Berkepanjangan

Abrishami menekankan bahwa memberikan waktu istirahat bagi tubuh dan pikiran merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi burnout atau kelelahan akibat stres berkepanjangan.

Seseorang yang terus memaksakan diri beraktivitas tanpa pemulihan berisiko mengalami penurunan energi sehingga semakin sulit menghadapi tantangan sehari-hari.

“Jika anda terus-menerus dalam mode aktif, Anda akan kelelahan, dan Anda mungkin mengalami burnout. Ketika Anda mengalami burnout, anda tidak memiliki cukup energi untuk menghadapi frustrasi, kemunduran, dan tantangan. Percayalah, jauh lebih mudah untuk mencegah burnout dengan istirahat daripada mengobatinya," kata Abrishami.

Menurutnya, beristirahat ketika kondisi tubuh mulai tidak nyaman dapat membantu mencegah tekanan berkembang menjadi kelelahan yang lebih serius.

Selain istirahat, aktivitas fisik seperti berolahraga juga dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan mental.

Menghabiskan waktu di alam terbuka serta berinteraksi dengan keluarga, sahabat, atau orang-orang terdekat juga dapat membantu memperbaiki suasana hati.

Aktivitas fisik dan lingkungan sosial yang mendukung berkaitan dengan proses biologis, termasuk aktivitas dopamin, yang berperan dalam pengaturan motivasi dan perasaan senang.

Kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan emosi bagi individu yang sedang menghadapi kecemasan maupun tekanan psikologis.

Dengan mengenali tanda kelelahan, mengurangi paparan informasi berlebihan, menjaga pola hidup sehat, dan menyediakan waktu pemulihan, seseorang dapat lebih mampu menghadapi tekanan tanpa mengabaikan kesehatan mentalnya.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026