HOME  ⁄  Lifestyle

Kemenpar Ajak Agen Perjalanan Kembangkan Paket Wisata Tematik di Yogyakarta dan Borobudur untuk Tarik Wisatawan Berkualitas

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenpar Ajak Agen Perjalanan Kembangkan Paket Wisata Tematik di Yogyakarta dan Borobudur untuk Tarik Wisatawan Berkualitas
Foto: (Sumber :Sejumlah agen perjalanan dan tur operator lokal mengikuti kegiatan famtrip yang digelar oleh Kementerian Pariwisata pada 16 sampai 20 Oktober 2026 di DI Yogyakarta. (ANTARA/HO-Kementerian Pariwisata).)

Pantau - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak agen perjalanan dan operator tur lokal mengembangkan paket wisata tematik berbasis ketenangan jiwa, gastronomi, sejarah, dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta serta kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Langkah tersebut dilakukan untuk merespons perubahan minat wisatawan nusantara yang semakin mengutamakan pengalaman perjalanan bermakna dibandingkan sekadar mengunjungi destinasi wisata.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan tren tersebut terutama terlihat pada wisatawan kelas menengah ke atas dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

“Tren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” kata Made dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Menurutnya, pengembangan paket wisata tematik menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Kemenpar Libatkan 10 Agen Perjalanan dalam Wisata Pengenalan

Kementerian Pariwisata telah menggelar kegiatan perjalanan pengenalan atau familiarization trip (famtrip) bertajuk "Harmoni Raga, Rasa dan Tradisi" pada 16–20 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut melibatkan 10 agen perjalanan dan operator tur lokal untuk memperkenalkan potensi wisata tematik di Yogyakarta dan kawasan Borobudur.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami perubahan tren perjalanan dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih personal dan bernilai tinggi.

Perubahan tersebut berkaitan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menjadikan liburan sebagai sarana perawatan diri, relaksasi, dan pemulihan kesehatan mental.

Selain memperkenalkan destinasi, kegiatan tersebut juga menghadirkan pertemuan bisnis antarpelaku usaha pariwisata atau business-to-business (B2B).

Pertemuan itu diharapkan membuka peluang kerja sama dan transaksi yang memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung target pemerintah mencapai 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2026.

Wisata Gastronomi dan Sejarah Yogyakarta Jadi Daya Tarik

Dalam rangkaian perjalanan pengenalan, peserta mengikuti sejumlah kegiatan yang menggabungkan pengalaman kuliner, budaya, sejarah, dan kebugaran.

Kegiatan dimulai dengan eksplorasi gastronomi bersama Dje Djak Rasa melalui program Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul.

Program tersebut memperkenalkan sajian ayam ingkung sekaligus cerita mengenai resep dan tradisi kuliner masyarakat setempat.

Peserta kemudian mengikuti "Senja Gastronomy Walking Tour: Telusur Tugu & Pecinan" untuk mengenal perpaduan budaya dan mencicipi jajanan lokal.

Perjalanan berlanjut melalui program "Tiga Wajah Mataram" bersama Remen Jawi yang menghadirkan penjelajahan sejarah serta pengalaman perjamuan lintas masa.

Peserta juga menikmati racikan teh yang dipersonalisasi di Sadahurip, mengunjungi Kampung Wisata Purbayan, dan mencicipi hidangan gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi meditasi berkesadaran bersama Selaras Jiwo Journey yang menggabungkan relaksasi dan cerita budaya.

Kemenpar Dorong Wisata Jalan Kaki dan Perjalanan Santai

Selain wisata kuliner dan sejarah, Kemenpar turut memperkenalkan potensi wisata jalan kaki atau walking tour sebagai alternatif menjelajahi destinasi.

Konsep tersebut memungkinkan wisatawan menikmati lingkungan, budaya, dan aktivitas masyarakat secara lebih dekat.

Kegiatan wisata jalan kaki juga berkaitan dengan tren slow tourism, yaitu perjalanan yang mengutamakan pengalaman mendalam dengan ritme lebih santai.

Made menilai aktivitas tersebut memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami cerita di balik destinasi yang dikunjungi.

“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi. Pengalaman sensorik seperti inilah yang dicari oleh wisatawan berkualitas tinggi masa kini,” ujar dia.

Kemenpar berharap pengalaman yang diperoleh para agen perjalanan selama kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi paket wisata baru yang menarik bagi pasar domestik.

Pengembangan paket wisata berbasis budaya, gastronomi, dan kebugaran juga diharapkan memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat di sekitar destinasi.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026