Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Makan Patita Jadi Simbol Rekonsiliasi dan Perdamaian Pascakonflik di Negeri Liang, Maluku

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Makan Patita Jadi Simbol Rekonsiliasi dan Perdamaian Pascakonflik di Negeri Liang, Maluku
Foto: (Sumber: Makan Patita Gubernur Maluku bersama masyarakat Liang Maluku Tengah. ANTARA/Dedy Azis..)

Pantau - Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku menjadikan tradisi Makan Patita sebagai budaya rekonsiliasi dan penguatan perdamaian antar-anak negeri yang sempat terpecah akibat konflik.

Tradisi ini dipakai sebagai upaya mempererat kembali tali persaudaraan masyarakat pascakonflik.

Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyampaikan hal ini dalam pelaksanaan Makan Patita yang digelar di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, pada hari Kamis.

Simbol Komitmen Damai dan Pelestarian Nilai Orang Basudara

Makan Patita menjadi simbol kuat dari rekonsiliasi perdamaian, yang ditandai dengan prosesi adat penyembelihan satu ekor kambing sebagai sumpah adat seluruh anak Negeri Liang.

"Sumpah adat ini dimaknai sebagai komitmen bersama. Setiap pelanggaran terhadap kesepakatan damai diyakini akan mendapat sanksi adat serta kutukan dari para leluhur," tegas Gubernur Hendrik.

Ia menyebut bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan yang sempat retak.

"Pertemuan hari ini adalah bukti bahwa kasih sayang, persaudaraan, dan keinginan untuk hidup damai jauh lebih kuat daripada amarah yang sempat memisahkan kita. Saya bangga bisa hadir dalam acara Makan Patita ini," ujarnya.

Pemerintah Provinsi Maluku menyambut baik pelaksanaan Makan Patita sebagai wujud nyata semangat kebersamaan dan persatuan.

Gubernur mengajak masyarakat agar nilai-nilai orang basudara serta pela gandong tetap diwujudkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

"Kesempatan ini harus dimaknai sebagai bentuk keterlibatan bersama sekaligus introspeksi terhadap berbagai bentuk interaksi sosial, baik dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan, khususnya di Negeri Liang yang sama-sama kita cintai," katanya.

Jaga Maluku, Jaga Masa Depan Bersama

Gubernur juga mengingatkan bahwa konflik dan pertikaian hanya menyisakan luka fisik, kerugian materi, dan dampak psikologis yang membebani masa depan generasi penerus.

"Tidak ada pemenang dalam sebuah konflik. Yang ada hanyalah kehilangan," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ukhuwah atau persaudaraan adalah modal dasar untuk saling menghidupi dan membangun Maluku secara bersama-sama.

Hal ini, menurutnya, selaras dengan kearifan lokal masyarakat Maluku seperti potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, serta sagu salempeng dipatah dua, sebagai simbol dari kebersamaan sejati orang basudara.

"Untuk itu, saya mengajak seluruh warga Negeri Liang, mari katong jaga Maluku bae-bae. Siapa lagi yang mau bangun Maluku kalau bukan ale dengan beta," pungkasnya.

Penulis :
Aditya Yohan