
Pantau - Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati Thohari mengapresiasi capaian produksi Pabrik Pengolahan Bawang Merah Kelompok Tani Sidomakmur PT Sinergi Brebes Inovatif di Desa Sidamulya, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (24/2/2026), dan menegaskan pemetaan agroecological zone menjadi kunci menghentikan impor bawang.
PARLEMENTARIA, Brebes melaporkan keberhasilan tersebut dinilai tidak terlepas dari pemanfaatan serta pemetaan agroecological zone yang dilakukan secara tepat dan terencana sehingga potensi pertanian dapat dioptimalkan dan memberi nilai tambah bagi petani.
"Saya sangat bangga dan kagum dengan hasil produksi bawang Brebes ini ya, sebetulnya kalau kita memetakan agroecological zone dengan baik itu kita tidak akan ada import bawang," ungkap Endang saat diwawancarai Parlementaria usai kunjungan kerja reses di Kota Brebes-Tegal, Jawa Tengah.
Ia menjelaskan pada masa lalu saat panen raya justru terjadi impor bawang yang merugikan petani karena harga anjlok akibat over supply.
Sekitar lima belas tahun lalu, menurutnya, masyarakat yang melintas di jalan-jalan Brebes bahkan diberi hadiah bawang karena produksi melimpah dan tidak terserap pasar.
Hilirisasi dan Koperasi Desa Perkuat Ekonomi Petani
Endang menyatakan saat ini kondisi tersebut mulai berubah dengan adanya hilirisasi pengolahan bawang yang memperkuat nilai tambah produk.
"Nah saya bangga sekali sekarang sudah ada perubahan apalagi ada hilirisasi ditambah ada koperasi, koperasi desa merah putih ini diharapkan supaya tidak ada pelarian modal dari desa ke kota. Karena kebanyakan kalau melalui bank itu selalu ada undang-undangnya. Nah kalau koperasi itu hasil usahanya untuk kesejahteraan para anggotanya," ujarnya.
Ia juga menyampaikan rasa salut atas adanya ekspor bawang ke beberapa negara tetangga dan berharap capaian tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani bawang merah.
Potensi Besar dan Ancaman Klaim Negara Lain
Endang memaparkan perhitungan biaya dan hasil panen bawang merah yang dinilai sangat menjanjikan bagi petani.
"Kemarin dihitung bahwa satu hektar itu membutuhkan biaya Rp140 juta dan setelah panen bisa menghasilkan Rp250 juta sampai Rp350 juta. Itu kan bukan main. Saya yang doktor saja belum tentu dapat gaji sekian," tuturnya.
Ia berharap langkah positif tersebut dijadikan grand strategi untuk desa-desa lain yang memiliki potensi lokal andalan agar tidak bergantung pada impor.
Endang juga mengingatkan agar potensi lokal Indonesia tidak dimanfaatkan negara lain seperti Thailand yang kerap mencap produk Indonesia sebagai milik mereka sebagaimana terjadi pada komoditas jengkol dan petai.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







