
Pantau - Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat mengembangkan program penangkaran benih jagung di Kampung Macuan, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dengan target menghasilkan sekitar 6 ton benih yang mampu memenuhi kebutuhan penanaman hingga 200 hektare lahan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pasokan benih dari luar daerah.
Kepala BRMP Papua Barat Abdul Syukur Syarif mengatakan pengembangan benih secara mandiri menjadi langkah strategis untuk mendukung kemandirian benih dan peningkatan produktivitas pertanian di daerah.
Lahan percontohan yang digunakan dalam program tersebut memiliki luas sekitar 1 hektare dan diproyeksikan mampu menghasilkan 6 ton benih jagung.
Benih yang dihasilkan dari lahan tersebut nantinya dapat digunakan untuk pengembangan sekitar 200 hektare lahan tanam jagung di Papua Barat.
Tinjau Perkembangan Penangkaran dan Pembangunan Dryer
Abdul Syukur Syarif bersama Wakil Kepala Polda Papua Barat Brigjen Pol Sulastiana dan jajaran BRMP Papua Barat melakukan peninjauan lokasi penangkaran benih jagung serta pembangunan gudang pengering (dryer) jagung di Kampung Macuan.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat perkembangan penangkaran benih jagung sekaligus meninjau kesiapan pembangunan fasilitas pendukung pembenihan.
Abdul Syukur menegaskan, "Mesin dryer sangat membantu menjaga kualitas benih."
Menurutnya, keberadaan gudang pengering berfungsi menjaga kualitas benih jagung, mendukung peningkatan produktivitas, serta memperkuat sistem pembenihan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Tim lapangan BRMP Papua Barat juga melakukan evaluasi terhadap tanaman jagung yang terdampak serangan hama ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda).
Hasil evaluasi menunjukkan tanaman masih berada dalam kondisi cukup baik dan pertumbuhannya tetap menunjukkan perkembangan positif.
Metode Tanam Sisip dan Dukungan Polda Papua Barat
BRMP Papua Barat memperkenalkan metode tanam sisip (single replanting) sebagai strategi meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan mempercepat siklus produksi pertanian.
Abdul Syukur menjelaskan, "Nanti penanaman menggunakan metode tanam sisip."
Metode tersebut dilakukan melalui penanaman kembali sebelum masa panen berakhir sehingga pemanfaatan lahan dapat berlangsung lebih optimal.
Wakil Kepala Polda Papua Barat Brigjen Pol Sulastiana menekankan pentingnya perencanaan berbasis data dalam pengembangan program jagung di daerah.
Data yang perlu disiapkan meliputi luas lahan potensial, jumlah kelompok tani, dan kebutuhan benih di setiap distrik agar program dapat berjalan secara terukur, berkelanjutan, dan tepat sasaran.
Kepolisian menyatakan dukungan terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mewujudkan kemandirian benih di Papua Barat.
Sulastiana menekankan perlunya kolaborasi antarinstansi teknis, keterlibatan kelompok tani, serta kerja sama lintas lembaga untuk mendukung keberhasilan program tersebut.
Sulastiana berharap, "Kami berharap segala upaya yang dilakukan, mampu menjadikan Manokwari sebagai salah satu pusat pengembangan benih dan produksi jagung di Papua Barat."
Dalam kunjungan tersebut, BRMP Papua Barat juga memberikan edukasi kepada petani mengenai teknik pemupukan yang tepat, peningkatan produktivitas tanaman jagung, serta penggunaan campuran pupuk urea dan phonska sesuai kebutuhan tanaman.
- Penulis :
- Arian Mesa





