HOME  ⁄  Nasional

Industri Kelapa Sawit Dinilai Berperan Strategis Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Industri Kelapa Sawit Dinilai Berperan Strategis Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Foto: Foto: Ilustrasi seorang pekerja menunjukkan tandan buah segar (TBS) sawit setelah dipanen. (Sumber: BPDP)

Pantau - Industri kelapa sawit dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, serta pengembangan industri pangan berkelanjutan.

Produksi Sawit Indonesia Penuhi Kebutuhan Nasional

Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center IPB University Puspo Edi Giriwono mengatakan Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan kemampuan menghasilkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sekitar 53 juta ton per tahun.

"Minyak sawit kita mampu memenuhi kebutuhan Indonesia secara 100 persen, bahkan sampai surplus dan bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati global," ungkap Puspo.

Menurut Puspo, kapasitas produksi tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan minyak nabati dalam negeri, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemasok utama kebutuhan minyak nabati dunia.

Ia menilai peran kelapa sawit akan semakin penting seiring meningkatnya jumlah penduduk global yang diperkirakan mencapai 10 hingga 11 miliar jiwa pada 2050.

Peningkatan jumlah penduduk tersebut diperkirakan mendorong kebutuhan minyak nabati dunia hingga sekitar 250 juta ton per tahun.

Dengan keterbatasan lahan yang semakin meningkat, Puspo menilai peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati secara berkelanjutan tanpa memperluas deforestasi.

"Apa komoditas yang bisa sangat produktif dengan kondisi lahan semakin berkurang? Produktivitas kelapa sawit akan menjawab dan menyuplai kebutuhan populasi dunia yang mencapai 10-11 miliar tadi," katanya.

Hilirisasi Sawit Dorong Nilai Tambah Ekonomi

Puspo mengatakan pengembangan industri hilir berbasis sawit di sektor pangan perlu terus diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku.

Saat ini minyak sawit telah digunakan dalam berbagai produk pangan seperti minyak goreng, margarin, cokelat, dan berbagai makanan olahan lainnya.

Menurut Puspo, masih terdapat peluang besar bagi industri dalam negeri untuk mengembangkan lebih banyak produk turunan pangan berbasis kelapa sawit dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

"Semua yang kita konsumsi itu ada minyak sawit. Karena minyak sawit begitu fleksibel dan memiliki harga yang sangat terjangkau," ujar Puspo.

Ia mencontohkan industri pangan di luar negeri yang mampu mengolah bahan baku hingga 10 tahapan lanjutan sehingga menghasilkan produk pangan khusus bernilai tambah tinggi.

Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menjalankan Program Pangan dan Hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit melalui pendanaan riset, pengembangan infrastruktur, serta penguatan kemitraan industri.

Program tersebut diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai pusat industri berbasis sawit yang berkelanjutan dan inovatif, khususnya dalam sektor pangan.

Puspo menilai program tersebut perlu terus diperkuat untuk mendorong penelitian dan pengembangan minyak sawit merah atau red palm oil yang memiliki prospek dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Produk minyak sawit merah dinilai dapat menjadi salah satu komoditas hilir sawit bernilai tambah tinggi yang memperluas pasar industri pangan nasional.

Penulis :
Shila Glorya