Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Dirjen Bimas Buddha Sebut Penebaran Ekoenzim di Sungai Jeletreng Wujud Praktik Ekoteologi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Dirjen Bimas Buddha Sebut Penebaran Ekoenzim di Sungai Jeletreng Wujud Praktik Ekoteologi
Foto: (Sumber: Penebaran 10 ribu liter ekoenzim ke Sungai Jeletreng, Kota Tangerang Selatan, untuk memulihkan ekosistem sungai dari pencemaran, Minggu (8/3/2026). ANTARA/Asep Firmansyah.)

Pantau - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Supriyadi menilai penebaran ekoenzim di Sungai Jeletreng, Kota Tangerang Selatan, sebagai praktik nyata konsep ekoteologi dalam menjaga lingkungan.

Penebaran ekoenzim tersebut dilakukan oleh Generasi Muda Buddhis Indonesia bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Agama untuk membantu memulihkan sungai yang tercemar bahan pestisida.

"Inilah bentuk praktik nyata dari ekoteologi seperti yang diarahkan oleh Menteri Agama. Mudah-mudahan gerakan ini terus berkembang karena teman-teman berkomitmen untuk terus membuat ekoenzim", ungkap Supriyadi.

Sungai Tercemar Akibat Kebakaran Gudang Pestisida

Sungai Jeletreng diketahui tercemar bahan pestisida akibat kebakaran yang terjadi di gudang penyimpanan pestisida pada Februari lalu.

Air sisa pemadaman kebakaran yang bercampur dengan residu bahan kimia kemudian mengalir ke badan sungai sehingga menyebabkan pencemaran.

Sungai Jeletreng sendiri bermuara ke Sungai Cisadane.

Pencemaran tersebut berdampak terhadap kualitas air serta kehidupan biota di perairan tersebut.

Ajaran Buddha Tekankan Kepedulian Lingkungan

Supriyadi menjelaskan bahwa ajaran Buddha menekankan pentingnya menjaga alam karena manusia hidup bergantung pada lingkungan.

"Dalam praktik keagamaan Buddha kita juga diajarkan menjaga hutan. Ada ajaran yang menekankan pentingnya merawat alam karena dari alam semesta inilah kita memperoleh sumber kehidupan", ujarnya.

Ia juga menjelaskan konsep Paticca Samuppada yang mengajarkan bahwa seluruh makhluk hidup saling terhubung dan saling bergantung satu sama lain.

"Prinsipnya adalah saling keterhubungan atau interbeing. Semua makhluk saling berkaitan sehingga harus saling menghargai dan saling menjaga", katanya.

Gerakan Produksi Ekoenzim Diperluas

Supriyadi menambahkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha juga telah menggerakkan umat Buddha untuk memproduksi ekoenzim secara lebih luas.

Produksi ekoenzim tersebut dilakukan dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Waisak.

"Nanti kami akan punya gerakan pembuatan ekoenzim secara masif. Hasilnya akan kita gunakan di tempat-tempat yang memang membutuhkan, tidak hanya di Sungai Jeletreng", ujarnya.

Aksi penebaran 10.000 liter ekoenzim ke Sungai Jeletreng tersebut tercatat dalam Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai penuangan ekoenzim terbanyak di sungai.

Kegiatan tersebut dipimpin Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.

Acara tersebut juga dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Supriyadi, Ketua Umum Gemabudhi Bambang Patijaya, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, serta Ketua DPRD Tangerang Selatan.

Direktur Operasional MURI Jusuf Ngadri mengatakan "Pada hari ini MURI menjadi saksi aksi anak-anak Buddhis Indonesia yang menuangkan eco enzyme dalam rangka menyambut 40 tahun usia Gemabudhi".

Penulis :
Gerry Eka