HOME  ⁄  Nasional

Krisis Oksigen di Sungai Ancam Kehidupan Ikan dan Keseimbangan Ekosistem Air Tawar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Krisis Oksigen di Sungai Ancam Kehidupan Ikan dan Keseimbangan Ekosistem Air Tawar
Foto: (Sumber : Ilustrasi. Aliran Sungai Brantas. (Destyan).)

Pantau - Krisis oksigen di perairan tawar akibat pemanasan suhu sungai semakin mengancam kehidupan ikan dan keseimbangan ekosistem, seiring meningkatnya tekanan lingkungan yang dipicu perubahan iklim dan aktivitas manusia di wilayah daratan.

Sungai sebagai sistem ekologis yang dinamis menghadapi kerentanan tinggi terhadap berbagai gangguan lingkungan, mulai dari kenaikan suhu air hingga perubahan tata guna lahan yang memengaruhi kualitas habitat organisme akuatik.

Menurut telaah yang ditulis Rejeki Wulandari, ikan memiliki peran penting sebagai penjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus menjadi indikator alami kesehatan ekosistem sungai.

Keberadaan atau berkurangnya populasi ikan dapat menjadi sinyal dini adanya gangguan serius yang terjadi di bawah permukaan perairan.

Pemanasan Sungai Turunkan Kadar Oksigen

Berbagai penelitian menunjukkan suhu air sungai di banyak wilayah dunia terus meningkat seiring naiknya suhu udara global.

Meski kenaikannya hanya sekitar 1 hingga 2 derajat Celsius dalam sejumlah pengamatan jangka panjang, perubahan tersebut berdampak besar terhadap kondisi ekologi sungai.

Air yang lebih hangat menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun dan meningkatkan kebutuhan metabolisme organisme air.

Kondisi itu dapat memicu stres fisiologis hingga kematian pada spesies yang sensitif terhadap perubahan suhu.

Kerentanan semakin tinggi pada sungai dangkal yang kehilangan vegetasi riparian atau peneduh alami akibat pembukaan lahan dan degradasi lingkungan di daerah hulu.

Tanpa tutupan pohon di sepanjang bantaran sungai, sinar matahari langsung mengenai permukaan air sehingga mempercepat proses pemanasan, terutama saat musim kemarau.

Ancaman bagi Keanekaragaman Hayati Air Tawar

Di wilayah tropis, pemanasan sungai berpotensi berlangsung lebih cepat karena suhu dasar perairan yang relatif hangat.

Kondisi tersebut membuat ambang toleransi organisme air terhadap perubahan suhu menjadi semakin sempit.

Peningkatan frekuensi suhu ekstrem juga memperbesar risiko terganggunya jaring kehidupan air tawar yang bergantung pada pasokan oksigen yang cukup.

Telaah tersebut menegaskan bahwa sungai tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga membawa dampak dari berbagai keputusan manusia di daratan.

“Di dalam alirannya, sungai tidak hanya membawa air, tetapi juga membawa konsekuensi dari seluruh keputusan manusia di daratan, baik yang bijak maupun yang ceroboh,” tulis Rejeki Wulandari.

Pelestarian vegetasi bantaran sungai, pengelolaan tata guna lahan yang berkelanjutan, dan upaya mitigasi perubahan iklim dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas perairan serta mencegah krisis oksigen yang lebih luas di masa depan.

Penulis :
Ahmad Yusuf