Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Perbedaan Penetapan Lebaran di Indonesia Tak Halangi Silaturahmi dan Persatuan Umat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Perbedaan Penetapan Lebaran di Indonesia Tak Halangi Silaturahmi dan Persatuan Umat
Foto: (Sumber : Ilustrasi: Petugas Kemenag Ponorogo melakukan pemantauan hilal awal Ramadhan 1447 Hijriah di Ponorogo, Jawa Timur. ANTARA/HO - prastyo.)

Pantau - Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia kembali terjadi, namun tidak menghalangi masyarakat untuk tetap menjaga silaturahmi dan persatuan.

Fenomena ini telah berlangsung sejak awal kemerdekaan Indonesia, dipicu oleh perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah, khususnya Syawal, yang digunakan oleh organisasi keagamaan.

Perbedaan Metode Penentuan Idul Fitri

Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyatul hilal dengan pengamatan langsung hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam sebagai dasar penentuan awal bulan.

Pendekatan ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, “berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya”, yang menjadi landasan utama praktik rukyat.

Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan prinsip wujudul hilal yang menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi tanpa harus menunggu hilal terlihat.

Pendekatan ini dinilai memberikan kepastian karena kalender Hijriah dapat disusun jauh hari dengan perhitungan yang presisi.

Upaya Pemerintah dan Dampak Sosial

Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat untuk menggabungkan data hisab dan hasil rukyat guna menetapkan keputusan resmi yang berlaku secara nasional.

Meski demikian, pemerintah tetap menghormati keputusan masing-masing organisasi keagamaan dalam menentukan awal Syawal.

Perbedaan biasanya terjadi saat posisi hilal berada di batas visibilitas sehingga hasil rukyat belum tentu berhasil meski secara hisab hilal sudah ada.

Kondisi ini membuat sebagian umat merayakan Idul Fitri lebih awal dibanding lainnya.

Dalam praktiknya, masyarakat tetap menjaga kebersamaan dengan saling bersilaturahmi meski berbeda hari perayaan.

Tradisi ini bahkan memperkuat hubungan sosial karena masyarakat sering menghadiri lebih dari satu momen halal bihalal.

Upaya penyatuan kalender Hijriah terus dilakukan melalui forum regional seperti MABIMS, meski membutuhkan proses panjang dan kesepahaman lintas pihak.

Pada akhirnya, perbedaan penetapan Idul Fitri mencerminkan dinamika ijtihad dalam Islam yang tetap berjalan seiring dengan komitmen menjaga ukhuwah Islamiyah.

Penulis :
Ahmad Yusuf