Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ribuan Umat Lintas Agama Padati Ziarah Lebaran di Kampung Wanasari Denpasar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ribuan Umat Lintas Agama Padati Ziarah Lebaran di Kampung Wanasari Denpasar
Foto: (Sumber : Ribuat umat Muslim dan lintas agama menjalankan tradisi ziarah makam pada Idul Fitri di Makam Kampung Wanasari Kota Denpasar, Bali, Sabtu (21/3/2026). ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Pantau - Ribuan umat Muslim dan lintas agama memadati kawasan Pemakaman Muslim Wanasari Maruti 13 di Kota Denpasar, Bali, untuk menjalankan tradisi ziarah pada Idul Fitri 1447 Hijriah.

Tradisi Ziarah Lintas Agama

Ketua Pemakaman Abdul Hakim menjelaskan bahwa tradisi ini terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang agama.

“Pemakaman ini memang diperuntukkan kepada Muslim, yang dimakamkan Muslim, tapi di Bali karena majemuk ada yang orang tuanya, anaknya, atau saudaranya ada keturunan Islam jadi ketika meninggal keluarganya yang non-Islam ikut ziarah,” ungkapnya.

Ia menegaskan tidak ada pembatasan bagi peziarah selama tetap menjaga kesopanan.

Tradisi ziarah biasanya dimulai sejak sepekan sebelum Lebaran dan mencapai puncaknya setelah pelaksanaan shalat Id.

Toleransi dan Dampak Ekonomi

Pada hari Lebaran, ribuan peziarah datang untuk mendoakan keluarga, jauh meningkat dibanding hari biasa yang hanya sekitar 100 hingga 150 orang.

Pengelola makam bahkan membuka area hingga pukul 18.00 WITA untuk mengakomodasi lonjakan pengunjung.

Suasana toleransi juga terlihat dari keterlibatan pelaku UMKM lintas agama yang menjual bunga di sekitar area makam.

“UMKM ini mayoritas penduduk setempat tapi ada yang Hindu bahkan mereka jualan turun-temurun, ada yang 20 tahun jual bunga, mereka biasanya stok bunga apalagi berbenturan Hari Raya Nyepi jadi banyak menyiapkan karena banyak yang beli, ini membawa berkah juga bagi semua umat,” ujarnya.

Salah satu peziarah, Nyoman Menu, mengaku tradisi ini rutin dilakukan bersama keluarga meski berbeda agama.

“Ini rutin kami laksanakan tidak hanya Idul Fitri dan Ramadhan, saya bersama anak-anak, semua ini anak-anak saya kan di sini memang beragam,” tuturnya.

Tradisi ini menjadi simbol kuat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di Bali.

Penulis :
Ahmad Yusuf