
Pantau - Momen Idul Fitri tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga tekanan sosial bagi masyarakat untuk terlihat bahagia di tengah kondisi emosional yang beragam.
Tulisan telaah ini menyoroti fenomena di mana ekspresi bahagia saat Lebaran seolah menjadi kewajiban sosial yang harus ditampilkan oleh setiap individu.
Konsep Kerja Emosional Saat Lebaran
Fenomena ini berkaitan dengan konsep emotional labor yang diperkenalkan sosiolog Arlie Russell Hochschild dalam karyanya The Managed Heart.
Konsep tersebut menjelaskan bagaimana individu mengelola emosi agar sesuai dengan harapan sosial, termasuk dalam momen Lebaran.
Pada hari raya, masyarakat diharapkan menunjukkan perasaan bahagia, saling memaafkan, dan menampilkan kedamaian secara terbuka.
Realitas Emosi yang Tidak Selalu Sejalan
Namun, tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama saat Lebaran.
Sebagian menghadapi tekanan ekonomi, pertanyaan pribadi dari keluarga, hingga perasaan gagal memenuhi ekspektasi.
“Bahwa di balik senyum-senyum yang kita lihat, ada berbagai cerita yang tidak selalu terlihat. Bahwa di balik pelukan-pelukan hangat, ada emosi yang kadang masih belum sepenuhnya selesai.”
Tulisan ini menegaskan adanya paradoks antara makna personal Lebaran sebagai momen refleksi dengan tuntutan sosial untuk menampilkan kebahagiaan di hadapan orang lain.
- Penulis :
- Aditya Yohan








