
Pantau - Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menjelaskan antrean BBM di Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terjadi akibat kebijakan pembatasan pembelian BBM yang sempat diterapkan pemerintah daerah.
Kebijakan Pembatasan untuk Kurangi Antrean
Kebijakan pembatasan BBM tersebut awalnya dibuat oleh pemerintah daerah sebagai upaya mengurangi antrean panjang masyarakat di SPBU.
Kemendagri kemudian melakukan konfirmasi kepada kepala daerah setelah beredarnya surat edaran terkait pembatasan tersebut.
"Bupatinya sudah saya tanya, Wali Kota Singkawang sudah ditanya oleh sekjen, mereka melihat masyarakat kan antrean panjang untuk mengisi BBM. Dengan dasarnya itu, untuk mengurangi antrean, tujuannya itu, maka dua kepala daerah ini mengeluarkan surat edaran membatasi BBM sejumlah tertentu," kata Mendagri.
Salah Tafsir Picu Panic Buying
Namun kebijakan tersebut justru disalahartikan masyarakat sebagai indikasi stok BBM akan berkurang.
"Yang terjadi, diterjemahkan bahwa BBM akan kurang, sehingga akhirnya malah makin panjang, terjadi panic buying malah karena surat edaran yang membatasi. Padahal niatnya mengurangi antrean," lanjutnya.
Kemendagri kemudian berkomunikasi dengan pemerintah daerah untuk mencabut surat edaran pembatasan tersebut.
Pemerintah juga memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa stok BBM dan gas dalam kondisi aman dan mencukupi.
Setelah kebijakan dicabut dan informasi disampaikan, kondisi di lapangan kembali normal tanpa antrean panjang.
Pemerintah Kota Singkawang diketahui telah lebih dulu mencabut kebijakan pembatasan BBM sejak 18 Maret 2026.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menyatakan keputusan tersebut diambil setelah pemantauan di 11 SPBU menunjukkan tidak ada lagi kepadatan kendaraan.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mendorong penghematan konsumsi BBM sebagai langkah antisipatif terhadap situasi global.
Presiden juga mempertimbangkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home untuk mengantisipasi dampak krisis global terhadap energi.
Ia menyoroti kondisi di kawasan Eropa dan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga BBM dunia.
Kenaikan harga energi tersebut dinilai dapat berdampak pada harga pangan sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah proaktif.
- Penulis :
- Arian Mesa







