Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Pedagang Keluhkan Tumpukan Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pedagang Keluhkan Tumpukan Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati
Foto: (Sumber : Tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (29/3/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza)..)

Pantau - Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan tumpukan sampah yang menggunung dan tidak kunjung diangkut sehingga mengganggu aktivitas jual beli serta distribusi barang di kawasan pasar tersebut.

Tumpukan Sampah Ganggu Aktivitas Pedagang

Salah satu pedagang, Suratno (52), mengatakan kondisi tumpukan sampah membuat akses jalan di area pasar semakin sempit dan menyulitkan kendaraan untuk melintas.

"Sekarang makin menyempit jalannya karena sampah menggunung gitu. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat.", kata Suratno.

Ia menyebut bau menyengat dari sampah buah dan sayuran yang membusuk juga sangat mengganggu aktivitas perdagangan karena aromanya masuk hingga ke dalam kios pedagang.

"Kita ini dagang, tapi hawanya bau terus masuk ke dalam. Sangat mengganggu.", ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai menghambat proses bongkar muat barang yang merupakan aktivitas utama dalam operasional pasar induk sebagai pusat distribusi pangan.

Pedagang Soroti Retribusi Kebersihan yang Tetap Dipungut

Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Susanti (49), yang menilai penanganan sampah di pasar tersebut tidak kunjung membaik meskipun pedagang tetap membayar retribusi kebersihan setiap bulan.

"Tidak ada keringanan, padahal sampah numpuk terus. Kita tetap ditagih tiap bulan, bahkan telat sedikit langsung diperingati.", tutur Susanti.

Ia menyebut pedagang dikenakan biaya retribusi sekitar Rp600 ribu hingga Rp900 ribu per bulan tergantung luas kios.

Pedagang berharap pengelola pasar maupun pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi persoalan sampah yang terus berulang.

"Kalau dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan di lingkungan pasar.", ucap Susanti.

Tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) pasar tersebut dilaporkan mencapai sekitar enam meter pada Minggu (29/3) hingga melampaui lampu penerangan jalan di sekitar lokasi.

Genangan air di sekitar tumpukan sampah juga membuat kondisi jalan menjadi becek dan licin sehingga meningkatkan risiko bagi pedagang maupun pekerja yang melintas.

Pedagang menduga penumpukan sampah terjadi karena terbatasnya armada pengangkut menuju TPST Bantargebang sehingga sampah tidak terangkut secara rutin.

Penulis :
Ahmad Yusuf