
Pantau - BMKG memastikan sembilan alat deteksi tsunami di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara berfungsi optimal dalam memantau dampak gempa berkekuatan 7,6 magnitudo yang terjadi pada Kamis pukul 05.48 WIB.
Sistem Peringatan Dini Berjalan Cepat dan Efektif
Gempa dangkal dengan kedalaman 33 kilometer tersebut dipicu oleh aktivitas sesar naik yang berpotensi menimbulkan tsunami.
BMKG menyampaikan informasi awal gempa dan potensi tsunami kurang dari tiga menit setelah kejadian.
Peringatan dini kedua kemudian dikeluarkan delapan menit setelah informasi pertama.
Peringatan tsunami resmi diakhiri dua jam setelah estimasi waktu tiba gelombang pertama.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, "Sistem peringatan dini multi-bencana atau Multi-Hazard Early Warning System yang telah dikembangkan selama empat tahun terakhir terbukti bekerja secara efektif dalam situasi ini."
Ketinggian Gelombang dan Potensi Dampak
Dari sembilan alat pengukur pasang surut atau tide gauge yang mencatat tsunami, enam di antaranya milik BMKG dan tiga milik Badan Informasi Geospasial.
BMKG mencatat tinggi gelombang tsunami berkisar antara 0,25 hingga 0,75 meter.
Teuku Faisal Fathani menyatakan, "Dengan ketinggian gelombang tsunami berkisar antara 0,25 hingga 0,75 meter, namun pada beberapa lokasi tertentu ketinggian dapat meningkat karena kondisi geografis wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara yang kompleks, seperti keberadaan pulau-pulau kecil dan teluk,"
Pemerintah mengandalkan peralatan sensor untuk mengurangi risiko dampak bencana terhadap masyarakat.
Aktivitas Gempa Susulan Masih Tinggi
BMKG mencatat hingga pukul 12.00 WIB terjadi 93 gempa susulan dengan magnitudo mencapai 5,5 hingga 6.
Para ahli memperkirakan aktivitas gempa susulan masih berpotensi berlangsung selama satu hingga dua pekan ke depan.
Kondisi ini sangat bergantung pada dinamika aktivitas seismik di wilayah tersebut.
BMKG menegaskan akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan situasi.
Teuku Faisal Fathani menegaskan, “Pemantauan akan terus dilakukan karena aktivitas gempa susulan masih cukup tinggi. Diharapkan dengan koordinasi yang baik, dampak korban jiwa dan kerusakan dapat ditekan seminimal mungkin,”
- Penulis :
- Leon Weldrick








