
Pantau - Bima Arya Sugiarto mendorong penguatan konsep aglomerasi berbasis pendekatan sektoral untuk mengatasi persoalan perkotaan seperti banjir, kemacetan, dan sampah yang belum tertangani optimal.
Pendekatan Sektoral Dinilai Lebih Efektif
Pernyataan tersebut disampaikan Bima di Jakarta pada Kamis, 30 April 2026, dalam Seminar Nasional Diskusi Aglomerasi Sustainable Aglo-City Summit 2026 di Novotel Tangerang BSD City, Banten.
Ia menilai konsep aglomerasi bukan hal baru, namun implementasinya kerap terhambat karena terlalu berfokus pada aspek kelembagaan dibanding penyelesaian isu konkret di lapangan.
"Di China itu, Pak, sampai sekarang maju seperti ini karena aglomerasinya jalan. Diatur oleh pusat, dikasih model oleh pusat, sehingga bertumpu pada aglomerasi. Enggak bisa sendiri-sendiri," ungkapnya.
Bima menekankan perlunya pergeseran pendekatan dari kelembagaan menuju sektoral agar kebijakan pembangunan tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dalam satu ekosistem.
"Fokus pada isu dan sektoral langsung," tegasnya.
Peran Pemerintah Pusat dan Integrasi Lintas Wilayah
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia disebut mendapat mandat untuk memastikan sinkronisasi, sinergi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan berjalan efektif dalam implementasi konsep tersebut.
Penanganan sampah dan transportasi menjadi contoh isu utama yang membutuhkan pendekatan sektoral melalui intervensi langsung pemerintah pusat.
Program pengelolaan sampah menjadi energi listrik serta Local Service Delivery Improvement Program disebut sebagai langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.
Integrasi transportasi lintas daerah dinilai akan lebih efektif jika didukung kejelasan otoritas, skema pembiayaan, serta koordinasi antarwilayah yang solid.
Bima menegaskan dengan dukungan pemerintah pusat dan komitmen pemerintah daerah, konsep aglomerasi sektoral memiliki prospek kuat sebagai solusi jangka panjang bagi permasalahan perkotaan.
- Penulis :
- Shila Glorya





